Friday, July 4, 2014

Untuk Adik Kecil

Untuk adik kecil,
yang baru saja merasakan atmosfer bumi
yang belum lama merasakan genggaman jemari.
Mungkin tidak hari ini,
Tapi akan ada masanya,
ketika dirimu mampu mengeja kata,
masa dimana Kau mampu menelaah makna.
Maka tunggulah sampai saat itu tiba,

**

Sekian tahun yang lalu, ketika tanah itu masih terlihat lapang, ketika kota kelahiranmu belum sepadat sekarang, aku melihatnya sebagai seorang perempuan muda yang bersemangat. Menggenggam banyak mimpi, memiliki antusiasme tersendiri. Garis mukanya menunjukkan betapa ia memiliki keyakinan akan pilihan hidupnya. Hari itu ia terlihat cantik dengan busana violet-nya. Menambah semarak keceriannya yang berpadu dengan sebuah ketegasan. Dan Kau perlu tahu, Adik Kecil, perempuan muda itu adalah ibundamu.

**

VIOLETTERISM
Tentang Tapak Jejak Menuju Muara

Perjalanan itu terasa begitu melelahkan. Bagaimana tidak, kisah yang tertulis ini bukan cuma berbilang satu-dua tahun. Jemarinya sudah menulis kisah selama bertahun-tahun. Sedari dulu. Sejak harapan masih tinggi melambung, hingga harapan berada pada titik terendah yang justeru mengantarkannya pada puncak kedekatan dengan sang Ilahi. Ia hidup dengan segala dedikasi dan penuh mimpi. Satu per satu ia gapai, namun rupanya Tuhan hendak memberikan sebuah ujian tanda cinta pada hamba-Nya. Ia menempuh sebuah perjalanan panjang yang tak pernah terfikir sebelumnya. Ya, sebuah perjalanan panjang, dalam penantian.

Bagi sebagian orang, menanti adalah pekerjaan membosankan. Melelahkan. Tapi tidak dengan wanita itu. Kalau ada buku kumpulan cinta terindah di dunia, maka kisah ibundamu sungguh layak ikut serta, Adik Kecil. Berbahagialah karena Kau lahir dari rahim seorang wanita luar biasa. Ia menempuh perjalanan panjang. Meyakinkan diri bahwa sungguh tiada ikhtiar yang luput dari pandangan Sang Pencipta. Dua puluh delapan kali menerka sosok yang ternyata bukan jawaban; percayalah, hanya keyakinan yang kuat yang mampu mengantarkannya hingga titik ini. Ketika Kau hadir, menambah semarak indah kehidupannya; menjadi jawaban atas kesabarannya. Ya, sebelum menikah dengan papamu, perjalanan bundamu sungguh bukan sembarang perjalanan. Dan menanti kehadiranmu adalah momen mendebarkan bagi dirinya, Adik Kecil.

Kau pernah mendengar kisah Fathimah? Bagaimana puteri Rasulullah ini menjaga hatinya sedemikian rupa. Bagaimana ia menjaga perasaan naluriah yang hadir dalam dadanya, hingga tiada seorang pun tahu. Bagaimana Fathimah menjadi mempelai Ali melalui titah langsung Sang Ilahi Rabbi. Menjaga hati bukanlah perihal mudah, Kau perlu tahu itu. Dan tanyakan kepada ibumu tentang bagaimana caranya. Tak serupa kisah Fathimah, ibumu memiliki kisahnya sendiri. Berkali-kali proses ta’aruf; perkenalan itu berakhir begitu saja. Harapan indah berujung ucapan akad tak kunjung tiba. Tapi ibumu tetap tegar, Dik. Ia paham betul bahwa sedih dan kecewa adalah rasa yang dimiliki setiap insan. Tapi apa lantas itu menjadi sebuah alasan baginya untuk berlarut-larut? Nyatanya ia tetap tegar. Tetap melangkah. Tetap melanjutkan perjalanan. Bukan karena siapa, bukan karena apa-apa. Kukabarkan sekali lagi, itu karena keyakinannya yang luar biasa pada Sang Pencipta.

Proses itu dimulai sejak sepuluh tahun silam. Ketika belum bundamu tapaki tanah tempat perjumpaannya dengan papamu. Setiap proses memiliki kisahnya tersendiri, memiliki hikmahnya tersendiri. Rentetan peristiwa yang diberikan oleh Sang Maha Mengatur, disadari ataupun tidak, membentuk ibundamu menjadi sosok yang lebih kuat. Menjadi pribadi yang diam-diam memberi hikmah; menginspirasi.

Pada proses perdana, rupanya Tuhan hendak mengabarkan kepada ibundamu bahwa sungguh; membangun rumah tangga adalah soal menuju cinta-Nya bersama. Maka yang pertama berakhir dengan alasan ketidak-samaan pemikiran; perbedaan cara dalam mencintai-Nya. Pun yang kedua, sebuah episode yang begitu singkat. Berganti tahun memang, namun hanya terbilang beberapa hari. Yang ketiga tidak serumit diskusi-komunikasi dengan yang pertama, pun tidak secepat durasi yang kedua. Ini tentang bagaimana mempertimbangkan sebuah keputusan besar. Kau bisa membayangkan, ketika Kau berada dalam dua pilihan. Yang satu adalah impian besarmu, sementara yang lain adalah harapan yang hadir untuk mewujudkan mimpi yang lain. Pada akhirnya, pilihan adalah pilihan. Dan upaya manusia adalah upaya semata. Sementara hasil? Itu sepenuhnya hak Tuhan. Nyatanya ibumu tak meraih keduanya. Tidak mimpi besar untuk terbang menyebrangi pulau, tak pula harapan itu. Tapi sungguh, yang Tuhan berikan lebih daripada sekadar keinginan hamba-Nya.

Kalau memang berjodoh, maka selalu ada jalannya. Itu adalah nasihat lama yang mashyur hingga saat ini. Maka kalau memang tak berjodoh pun selalu ada jalannya. Seperti upaya bundamu dalam proses berikutnya, tak hanya mencoba sekali. Menerka; mungkin inilah saatnya berlabuh. Tapi ketika memang bukan jalannya, selalu saja ada persimpangan yang muncul. Berbentur jarak, menabrak jadwal, berpacu dengan waktu. Bahkan ada bagian yang memunculkan memori masa lalu.

Wanita itu, ibundamu, merupakan sosok yang begitu menjunjung sebuah ikatan persaudaraan. Ia menghargai setiap relasi yang ada. Jadi bisa kukatakan bahwa proses ini adalah salah satu yang terberat untuknya; ketika ia harus menggadaikan relasi pertemanan yang telah dibangun sekian lama. Sepuluh tahun berkawan dan proses ta’aruf itu sempat memutus komunikasi untuk sekian lama. Menghadapi kenyataan bahwa satu per satu kawan melepas kesendiriannya, menghadirkan fikir tersendiri dalam benak ibundamu. Dik, ia beristikharah sebelum akhirnya memutuskan untuk menjalani proses ta’aruf dengan kawannya itu. Dengan sosok yang sungguh ia anggap sebagai teman baik. Dan berakhir. Lagi-lagi, bukan jalannya. Menyayat ketika bundamu mendapati tiada undangan ditujukan kepadanya saat kawannya sendiri tengah melangsungkan pernikahan. Tidak diundang, dan tanpa alasan. Tapi sungguh, Tuhan selalu punya rencana. Selalu ada alasan dibalik itu semua.

Bagi sebagian orang, menanti adalah kegiatan menjenuhkan. Menunggu. Tapi bagi bundamu, menanti adalah saatnya bebenah diri. Menanti adalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Menanti adalah sejarah momentum romantis antara dirinya dengan Sang Kuasa. Menanti, bagi bundamu, terbayar lunas pada hari itu. Menanti, bagi bundamu, terbayar lunas dalam indahnya penantian akan hadirnya dirimu, Dik.

Muhammad Zahid Al-Zayyan. Sebuah do’a luar biasa yang disematkan kepadamu. Sarat makna. Muhammad, nama junjungan kita, nama Rasul penutup akhir zaman; ‘orang yang terpuji’. Sedang Zahid adalah cerminan Bunda-Papamu yang berharap akan dirimu, agar menjadikan dunia cukup di genggaman tangan dan tidak memperbudak hati. Al-Zayyan; indah, bercahaya, hiasan. Penuh harapan. Zayyan; Kau tahu selain merupakan kata dalam bahasa arab, ia miliki sebuah makna ‘terselubung’? aku takkan mengabarkan padamu soal itu. Bunda-papamu tentu lebih berhak. Hanya saja, Dik. Kau harus tahu kisah sederhana ini. Bagaimana sebuah perjalanan panjang menemukan muaranya. Tentang bagaimana sebuah muara menemukan hulunya.

**

Siang menjelang sore, aku melihat bundamu tengah duduk menatap laut dari pinggir pulau. Kutengok teman-temanku sejenak. Mereka sedang asyik berfoto ria. Mengabadikan momen berharga di tahun terakhir kami. Hari itu kami berkunjung ke kepulauan seribu; sebuah ajang refreshing bagi para penikmat ujian di penghujung tahun ajaran. Aku berjalan perlahan menghampiri bundamu. Menyapanya seperti biasa. Lantas duduk di sampingnya, ikut menikmati nostalgia bersama laut. Kamu akan merasakannya suatu saat, Dik. Sensasi ketika partikel angin laut menerpa wajahmu yang begitu mengasyikkan. Semoga saja manusia tidak terlalu tega untuk menghilangkan fenomena itu.

Aku tidak ingat betul bagaimana perbincanganku dengan bundamu bermula. Berbincang kesana-kemari, seperti biasa. Cerita tentang salah satu guru kami yang akan pindah dari kawah candra dimuka. Cerita tentang momen perpisahan guru-guru kami, yang bundamu bilang sungguh mengharukan. Bagaimana tidak, bertahun ukhuwah itu dibangun di atas keyakinan akan cita dan harapan untuk kebaikan masa depan. Dan tidak lama lagi mungkin akan berpisah raga oleh jarak. Adalah wajar adanya, ketika kesedihan bertengger di hati masing-masing insan. Aku pun tengah merasakan hal yang sama saat itu. Aku tahu, tak lama lagi akan meninggalkan tanah berjuta kisah itu. Aku tidak ingat betul, Dik. Tapi perbincangan kami tahu-tahu sampai pada bagian ketika bundamu berkisah tentang harapannya yang belum lagi menemukan muara. Kali ini tentang perbedaan kepentingan, pun terbatas pada wilayah. Jika bundamu berlabuh disana, ia diharuskan pergi jauh dari pulau jawa. Itu berarti harus meninggalkan sanak saudara. Terpisah jarak.

Aku mendengarkan dengan seksama. Meski sesekali suara bundamu berbaur dengan isak tawa dari belakang, dengan semilir angin yang berhembus pelan. Tidak banyak aku berkomentar. Hanya anggukan-anggukan. Atau gumaman seadanya. Agak suprised sebenarnya.  Karena tahu-tahu bundamu menceritaka hal demikian padaku. Bagian hebatnya, pada siang menjelang sore itu, aku tidak membaca ada garis-garis sedih atau apapun dari bundamu. Justru aura ketenangan, santai, dan apa adanya. Meski sesekali terlihat kaku memilih kata. Tapi harus kuakui, perbincangan siang-menjelang sore itu adalah yang menjadi favoritku selama aku mengenal bundamu. Terlepas dari isi percakapan kami, rasanya latar tempat sangat mendukung. Itu yang kukira menjadi alas an mengapa bundamu berbicara tanpa beban. Lepas. Tapi ternyata tidak, Dik. Sepertinya aku salah besar.

**

Dan tibalah pagi bersejarah itu. Pagi itu, aku bersama puluhan siswi lainnya berbaris seperti biasa. Membentuk banjar-banjar. Suasana pagi kerap menjadi saksi aneka macam ekspresi wajah kami. Menjadi wartawan sejati aktivitas awal hari kami. Ah ya, dulu aku menjadi salah satu yang senang sekali minta tolong pada bundamu untuk dibelikan sesuatu. Sepertii jeruk nipis, misalnya. Obat andalan ketika edisi suara habis tengah melandaku. Oke, Dik, kembali ke pagi bersejarah itu. Pagi itu, seperti biasa, bundamu bericara di depan kami. Awalnya kufikir hanya opening day yang memang biasa beliau lakukan. Entah pengumuman kecil, entah memberi motivasi. Tapi rupanya ada yang berbeda. Pagi itu, aku –dan puluhan siswi lainnya- dibuat kaget oleh deklarasi bundamu yang menyatakan akan menikah. Bundamu akan menikah. Siapa yang tidak berbahagia atas kabar luar biasa itu? Dan lebih tepatnya, siapa yang tidak dibuat kaget? Aku ingat sekali, banyak yang menangis terharu, termasuk aku. Selintas aku ingat perbincanganku dengan bundamu beberapa saat sebelumnya, di tepi pulau menghadap laut.

Dan yang tidak kusangka-sangka sebelumnya, adalah bagian ini. Ketika tangis haru itu seketika bermetamorfosa menjadi teriakan-teriakan kecil. Ada juga yang mencapai tingkat histeris. Adalah ketika salah satu di antara kami membacakan, siapa gerangan calon abi kami? Siapa yang akhirnya memenangkan harapan bundamu itu? Dan entah bagaimana, nama ini yang keluar, Dik.

Muhammad Zainuri

Tanpa ba-bi-bu, bundamu langsung dikelilingi belasan-mungkin puluhan siswi. Memeluk. Menangis terharu. Memaki lembut; bukan marah, melainkan semacam geregetan. Aku sempat terdiam. Kaget. Bersyukur. Jadi, obrolan di tepi laut itu apa maksudnya, Bu? Batinku dalam hati. Gemas. Tapi di atas itu semua, hari itu sungguh membahagiakan. Dan hebatnya, memang dasar bundamu itu. Ia bahkan sudah menyiapkan skenario, menyediakan kamera untuk kami. Kehedonan pagi itu terdokumentasikan dengan baik sekali.

Apa yang salah dengan Muhammad Zainuri? Tidak, bukan namanya yang kami permasalahkan. Lagipula kau juga pasti tahu, itu nama papamu, kan? Hhe J Dik, biar kuberitahu. Papamu adalah guru bahasa arab kami. Ya, bundamu juga guru bahasa arab kami. Mengetahui bundamu, orang yang kami sayangi, akan menuju bahtera yang telah lama ia rindukan –terlebih dengan orang yang juga kami kenal dan kami sayangi- sungguh merupakan kebahagiaan yang teramat istimewa.

Berita tentang bunda-papamu sukses menjadi trending topic pada hari itu. Mengalahkan topik-topik hebat lainnya. Tentang kegiatan OSIS, tentang penyambutan UN, tentang block test, tentang apapun, topic-topik itu pergi ke laut untuk sejenak. Tidak, bukan hanya ke laut, tapi tenggelam jauh sampai ke dasar. Kami menjadi orang norak sejak pagi, yang diam-diam menyembunyikan undangan pernikahan berwarna ungu di bawah meja. Lantas semakin norak ketika undangan bertuliskan bunda-papamu itu legal untuk disebar-luaskan. Lebih-lebih ketika berpapasan dengan papamu. Tiada henti mungkin, kami menggoda beliau dengan sebuah kata sederhana: ‘cie Bapak…’. Dan papamu hanya membalas dengan deret giginya. Tersenyum bahagia. Tapi kau cukup tahu, Dik, kenorakan kami adaah ekspresi nyata tentang harap dan cinta yang kami rasa.

**

Bundamu mondar-mandir. Agak bingung dengan berita yang baru saja ia dengar. Ternyata pemuda itu bukan temannya, bukan kerabatnya, bukan guru di wilayah Jakarta seperti yang ia bilang. Melainkan pemuda itu adalah dirinya sendiri. Benar lah kata Bu Dini –karib bundamu- beberapa waktu lalu. Rupanya rencana perjodohan itu adalah ‘modus’ belaka. (maaf pak Zain, hhe)

Di tengah padatnya rutinitas, bundamu mencoba untuk berfikir jernih. Menyerahkan segala sesuatunya kepada Sang Esa. Ajaib, alam terasa begitu merestui. Tidak seperti proses-proses sebelumnya, yang seringkali ibumu lah yang kerap bertindak aktif, mengikhtiarkan kepastian, kali ini semuanya terasa begitu mengalir. Ibarat proses replikasi DNA, tidak ada fragmen okazaki yang harus diberdayakan. Tidak ada aral melintang yang berarti di tengah jalan. Lancar. Bundamu, berada pada titik kepasrahan utuh. Tidak mengiyakan, tidak pula menolak. Bersandarkan keputusan orang tua seutuhnya. Toh ridha Allah ada pada ridha orangtua. Jika selama ini banyak proses yang tidak berlabuh karena tiada izin dari orangtua, maka biar kali ini bundamu menyerahkan seutuhnya. Hatinya sudah terlalu lelah untuk meminta. Sudah terlalu takut untuk menaruh harap. Meski tiada bisa dipungkiri, secercah harapan itu pasti ada.

Seumur-umur, wanita pecinta ungu itu, bundamu, tidak pernah membayangkan kejadian itu. Ketika yang menghampiri kedua orangtuanya adalah kerabat kerjanya sendiri. Yang biasa bertemu di ruang kantor, yang bahkan pada awalnya dianggap junior oleh bundamu karena tergolong guru baru di kawah candra dimuka itu. Sukses sudah wajah bundamu bertemankan bantal. Seutuhnya memasrahkan diri. Duduk. Tidak banyak berkata-kata. Membiarkan kakekmu berbincang dengan teman satu kantornya; dengan orang yang hendak melamarnya.

Allah selalu memiliki alasan untuk menghadirkan seseorang dalam hidup kita. Selalu. Rumusan itu pasti dan tidak pernah meleset sepersekian millimeter pun. Ini berlaku untuk semua orang, Dik. Jika memang tidak berjodoh, maka selalu saja ada alasan untuk tidak bertemu.  Dan tentu saja, selalu ada cara untuk dipertemukan, jika memang berjodoh. Langit hari itu menjadi saksi akan kemudahan yang dijanjikan Tuhan. Bersama kesulitan ada kemudahan. Lihatlah betapa sederhananya kalimat persetujuan itu keluar dari mulut kakekmu. Menyetujui anak bungsunya yang hendak dipinang oleh Muhammad Zainuri; dipinang oleh papamu. Dan perjalanan dua puluh delapan kali itu terbayar indah pada yang ke dua puluh sembilan. Apakah bundamu menyesal? coba tanyakan padanya. Karena kurasa, sama sekali tidak.

**

Kami perlu waktu cukup lama sampai akhirnya mendapat cerita itu langsung dari bundamu. Membayar rasa penasaran kami yang bertanya-tanya, kenapa begitu tiba-tiba? Dan ternyata prosesnya memang tidak lama. Cepat. Lagi, tidak hanya memberi kejutan pada kami, juga memberi kejutan pada guru-guru lain. Lucunya, papamu sukses mendapat ledekan dari guru lain perihal ibundamu yang tahu-tahu sudah dilamar. Tanpa ia tahu, bahwa si pelamar tak lain adalah papamu sendiri. Maka tidaklah hiperbola rasanya, kalau kukatakan berita-kisah-cerita itu menggemparkan. Meramaikan hari-hari berasrama. Di ruang kantor, di kamar, di koridor sekolah, di jalan-jalan lembaga pendidikan kami. Dan hebatnya, bundamu siap siaga mendokumentasikan kekagetan orang-orang atas hot news nya. Boleh lah sewaktu-waktu kau minta untuk diperlihatkan film dokumenter itu oleh bundamu. Semoga masih tersimpan rapi. (:

**

            Menjelang hari pengikraran akad suci, Ibundamu terlihat begitu berenergi, beraura positif. Semakin hari semakin bertambah kecantikannya. Kami berbondong-bondong menyewa bis besar, menuju Tasikmalaya demi menyaksikan kedua orangtuamu bersanding di pelaminan. Macet luar biasa, namun sungguh, sukses terbayar kelelahan yang ada ketika sampai di sana. Diam-diam kami menertawai diri sendiri. Mungkin ini rasanya jadi Bu Novi. Menelan pil pahit macet yang pada akhirnya berbuah indah menyaksikan kedua guru kami mengenakan seragam pengantin. Maka panjang perjalanan yang sungguh tak sebanding dengan lama kami berdiam di Tasik terbayar lunas. Ada getar tersendiri, bagi siapa pun yang mengetahui kisah panjang ibundamu, Adik Kecil yang baik. Begitu juga kami. Begitu juga aku.

**

Maka, Adik Kecil, berbahagialah. Karena Kau hadir melalui proses panjang yang mengandung hikmah. Aku tidak menuliskan detail urutan kejadian dengan jelas, biar bundamu yang melanjutkan kisahnya. Yang melengkapi skenarionya yang terpenggal-penggal. Tanyakan pada wanita violet itu, bagaimana debar yang ia rasa ketika hendak menanti hadirmu. Bagaimana kecemasan yang mampu ia balut dalam ketenangan bahkan ketika tengah berada di rumah sakit (Hei, bundamu ini sungguh ajaib. Bahkan masih sempat meminta doa via BBM, WA, FB, pada karib kerabat menjelang saat-saat sakral itu). Tanyakan padanya, bagaimana mengendalikan sugesti negatif yang tegah melanda diri. Orang biasa akan mudah terbawa pendapat yang mengatakan bahwa melahirkan di usia 30tahunan beresiko tinggi. Tapi bersyukurlah, wanita itu, bundamu, adalah sosok luar biasa.

Satu hal lagi
Kau perlu tahu, bahwa harapan kedua orangtuamu terhadap sosokmu adalah; seorang terpuji serta zuhud yang senantiasa menjadi perhiasan bagi mereka-bagi sesama. Amini doa mereka, Dik. Karena ridha Allah ada pada ridha orangtua. :)
Aamiin allahumma aamiin...

***

Ketika percakapan tepi laut itu berlangsung. Kepulauan seribu.


Muhammad Zahid Al-Zayyan; ini sosokmu. Masih ingat? :D

Pada suatu hari nanti,
Jasad kita tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini.
Kita tak akan pergi menghapus diri.

Pada suatu hari nanti,
Suara kita tiada akan terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini,
Peradaban akan tetap kita siasati

Pada suatu hari nanti,
Impian kita pun tiada dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Maka tidak akan ada letihnya kita mencari.

(Terinspirasi dari puisi Sapardi Djoko Damono; Pada Suatu Hari Nanti)

**


Teruntuk Bu Novi, semoga dengan ini hutang saya bisa terhitung lunas *aamiin* mungkin ibu tidak tahu, maka dari itu saya hendak mengabarkan. Ini adalah hasil coret-ganti berkali-kali demi melunasi janji. Selebihnya ada beberapa dokumen yang membeku begitu saja dimakan waktu. Menjadi sampah dalam buku-buku jurnal, dalam dokumen di laptop saya. Ini diawali pada sehari tepat setelah Adik Kecil Eza lahir, dan resmi dituntaskan pada hari ini, di bulan suci Ramadhan. Saya hampir melupakan janji saya untuk menulis tentang ibu, tapi kalimat ibu; "Kenapa pengen ke Riris? karena ibu jatuh cinta dengan kata2 dalam tulisan Riris." dalam percakapan kita sukses membuat saya tertegun. Meski jadinya begini adanya, maafkan jika diluar harapan. Karena jujur, menulis tentang seseorang yang real saya kenal, apalagi kisah hidupnya, susah sekali. Jadilah samar-samar tidak jelas seperti ini. Lagi, ini malah jadi surat buat De Eza. Hhe. Biar lah, ya, izinkan dia membaca suatu saat nanti, Bu.Jazakumullahu khairan katsiiran, Ibu Guru Kehidupan. :)

Violetterism; karena melihat violet mengingatkanku akan sosokmu

***
Bogor, 6 Ramadhan 1435 H

Thursday, July 3, 2014

Air Mail #4

Debu berputar, berpilin, menyeruak masuk. Membentuk metamorfosa terselubung. Dibalik bayang, dibawa udara, ditelan samudra. Adakah kau perhatikan bagaimana jejak pasir bersembunyi malu-malu sebelum waktunya tiba? Atau, bagaimana helai daun menaruh harap pada satuan tanah di daratan?

Assalamu’alaikum, Aster.
Seperti biasa, ini aku, Razen.

AIR MAIL 

“Razen, bukankah ini hebat sekali?” tanyamu dengan mata berbinar sambil menyodorkan sehelai kertas padaku. “Aku selalu bangga pada kalian, Razen. Ajari aku bagaimana caranya” ujarmu lagi, tanpa menghiraukan aku yang tengah sibuk memeriksa kertas apa itu. Ukurannya cukup besar. Lembarannya berisikan pengumuman. Liputan media tentang penghargaan yang belum lama kami –aku dan anak-anak panti lainnya- peroleh. Aku tersenyum demi memandang jejeran nama kami tertulis satu persatu. “Hei, Razeen,” kau tahu-tahu menarik ujung jaketku. Menyadarkanku yang sejak tadi tidak menjawab celotehanmu.

“iya? Kenapa?” tanyaku sambil tetap menatap kertas itu
“Aku bangga pada kalian. Ajari aku bagaiman caranya.” Aku menoleh ke arahmu. Intonasi suaramu datar. Mimik mukamu serius.
“Ajari apa? Bukankah ini cuma penghargaan untuk anak-anak panti? Penghargaan biasa, kan?” tanpa kuduga, kau tertawa mendengar pertanyaanku. Belakangan, aku tahu bahwa itu adalah tawa getir.
“Bukan ituu. Ajari aku untuk bersungguh-sungguh, melakukan sesuatu sepenuh hati. Seperti kalian.” Kau berkata sambil tersenyum. Tidak menatapku yang ada di sampingmu, melainkan menatap lurus ke depan.
“Hha, Aster. Bukankah hampir tiap petang kau melempari kami lumpur dengan sepenuh hati?” kalimat itu; kalimat bodoh yang aku lontarkan. Kau tahu, aku terlalu salah tingkah, Aster. Kenapa tahu-tahu kau menanyakan hal semacam itu?
 Kau mundur selangkah, bertolak pinggang, lantas cengegesan. Nyengir.
“Hhe, aku lupa. Maafkan aku.” Kita diam sesaat, disusul tawa. “Razeeen! Itu burung elang!” telunjukmu mengarah ke langit. Gelombang suaramu berpantulan di dinding-dinding bukit. Menghasilkan gaung yang saling bersahutan. Hei, Aster, kenapa kau harus memanggilku begitu kencang sementara aku jelas-jelas ada di sampingmu?

Sepasang mataku menatap angkasa. Benar sekali. Itu burung elang yang –mungkin- sama pada hampir setiap petang kita. Kau mungkin tidak menyadari, tapi saat itu ekspresimu jauh lebih menarik dibanding burung elang itu sendiri. Matamu terbelalak, mulutmu terbuka. Kau tersenyum lebar, memperlihatkan jejeran gigi yang berbaris rapi. Lalu tanganmu melambai-lambai, seakan si elang mengerti arti lambaian itu. Seakan ia tahu bahwa kau ada disini. Bahwa kita berdiri disini; memandangnya dari kejauhan. Menikmati padang ilalang seperti biasa.

Baiklah.
Itu tentang masa kecil kita.



***

Kita beranjak dewasa, seiring waktu. Sejak kecil, aku mengagumimu. Dan aku tahu, ada sesuatu yang tidak terdefinisi muncul diluar rasa kagum itu. Ada keinginan untuk melindungimu. Ada sesuatu yang mendorongku untuk menjagamu dari apapun. Pahitnya, kau seakan terlalu kuat untuk membutuhkan perlindunganku, Maka aku selalu saja merasa senang setiap kali kau memanggil namaku, meminta pertolonganku untuk hal sesederhana apapun. Kau memang kuat, tapi ada bagian terlemah yang diam-diam membuatku bersyukur. Entah bagaimana, kau takut pada cicak. Cicak, hewan kecil yang konon membawa kebaikan dari Tuhan jika kita membunuhnya. Dan hebatnya, diantara teman-teman, hanya aku yang tahu rahasia kecil itu. Hanya aku, dan hanya aku yang bisa kau mintai tolong untuk mengusir cicak yang kerap muncul di pojok-pojok panti ketika kau berlagak hebat menjadi mandor kami. Maafkan aku untuk membuka rahasia kecilmu di surat ini. Tak apa, kan? toh rahasia-rahasia milikku pun sudah tidak jadi rahasia lagi.

Aku mengagumimu sejak dulu. Semua orang tahu itu. Hanya dirimu yang tidak tahu, tidak pernah menyadari akan kekagumanku. Dan aku baru saja tahu, bukan hanya kekaguman istimewaku yang tidak kau ketahui. Melainkan Kau sama sekali tidak menyadari betapa kami teramat mengagumimu.

"Siapa yang paling menginspirasimu, Razen?" kau sering seperti itu. tahu-tahu melemparkan pertanyaan mematikan. Mempersempit pembuluh darahku dalam seketika.
"Kau." Aku tidak punya pilihan lain.
"Kau? maksudmu aku?" Kau terbelalak seakan tak yakin
"Iya, Kau, Aster menyebalkan." aku menjawab datar sembari meninggalkanmu. Pergi. Entah apa yang kau lakukan kemudian. Entah apa yang kau fikirkan.

Lagi, aku akan memberitahumu rahasia kecilku. Tidak mudah bagiku untuk melabel seseorang menjadi menyebalkan. Dan beruntung, label itu tersemat padamu. Kau sungguh-sungguh meyebalkan. Mulai dari kecemburuanku padamu atas sosok ibu yang luar biasa, hingga keberanianmu dan keteguhanmu. Aku sangat mengagumi jiwa optimismu, dan kau menjelma menjadi begitu menyebalkan, Ketika kita mulai sering berbincang. Ketika aku tahu ada sesuatu yang berubah. Ketika kau sering sekali memberiku pertanyaan mematikan yang membuatku ingin tenggelam ke laut untuk sejenak.

Membaca tumpukan suratmu dalam kotak kayu berukirkan bunga, membuatku berfikir lebih dalam. Aster, bukankah benar kata Tuan Erdas, pemilik kebun stroberi itu, bahwa Tuhan sungguh hebat sekali? kita dipertemukan dengan banyak insan, dan kita dibuat kagum pada insan-insan tertentu. Hingga tanpa disadari, sebenarnya kita saling menaruh kagum satu sama lain. Lantas apakah ada yang berganti? kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Kita tetap mengagumi orang lain tanpa berfikir untuk mengagumi diri sendiri. Manusia dianugerahi sepasang mata yang menghadap ke depan. Menatap lingkungan. Mungkin itu sebab, mengapa kita seringkali menatap orang lain lebih bercahaya. Seperti aku yang melihatmu begitu mengagumkan. Seperti kau, yang bahkan aku baru tahu bahwa kau pun mengagumi banyak orang, termasuk aku.

Aster, Ramadhan ini aku kembali ke Madinah. Ke kota cinta. Aku tahu, suatu saat jemariku akan mulai bosan menulis surat udara untukmu. Akan mulai lelah mengingat-ingat segala macam hal tentangmu. Kau pernah membunuhku pada hari itu, Ketika segala macam hal yang pernah kuberi kau kembalikan secara sepihak. Ketika kau tertunduk dan memohon maaf; mengatakan akan pergi. Seperti ditusuk pisau bertubi, kau berlalu tanpa mempersilahkan aku bicara lebih. Kemudian kau menghilang tanpa jejak. Bahkan hingga saat-saat terakhir. Mungkin nanti jemariku mulai jenuh mengukirkan udara untukmu, Mungkin nanti, akan tiba masa ketika aku harus menyudahi kebiasaan anomaliku ini; menuliskan surat udara untukmu. Yang boleh jadi tak terkirim, tak pernah terbaca.

Tapi Aster, aku sungguh berterima kasih padamu. Kau harus tahu betapa aku belajar banyak dari sosokmu, dari pribadimu. Dari perjalanan hidupku dalam mengenalmu. Kau pernah memintaku untuk mengajarkan, bagaimana melakukan sesuatu dengan sepenuh hati. Ketahuilah, Aster. Hidup kita tidak sesempit rumusan-teori. Kau adalah contoh nyata, bahwa melakukan sesuatu dengan sepenuh hati, dengan keikhlasan yang terpatri, justru ketika diri tidak menyadari. Dan tahu-tahu memberikan kontribusi yang berarti. Seperti kau yang menginspirasi namun tak menyadari -sama sekali.

Aster, Ramadhan ini, kota cinta kita tiada banyak berubah. Terik tetap melanda. Istimewanya tetap mendunia. Tiada dua. Aster yang baik, adakah kau perhatikan bagaimana jejak pasir bersembunyi malu-malu sebelum waktunya tiba? Atau, bagaimana helai daun menaruh harap pada satuan tanah di daratan?


**

Razen menatap ke sudut-sudut kota, memerhatikan fenomena kehidupan di sekitarnya. Tidak banyak berubah, Aster yang ia cari tak juga ditemui. Langit menyuarakan panggilan syurga bagi para pengiman. Membuat para pengais rezeki merehatkan sejenak barang dagangan, menutup pertokoan. Beranjak menjawab panggilan; shalat. Razen tersenyum tipis. Pemuda itu kembali melangkahkan kaki, menuju rumah Tuhan yang siang itu menjadi pusat penjuru. Bak sumber mata air, dihampiri para insan yang beruntung berada di atas ketetapan hati pada Rabb-nya.

Madinah adalah kota cinta
Langitnya adalah atap rumah cinta
Bangunan-bangunannya adalah potret keteguhan cinta
Pun penduduknya, tercipta karena cinta
Kota ini sempurna indah karena cinta sang tercinta yang dicinta oleh Maha Pemilik Cinta

***
AkhirSya'ban-AwalRamadhan 1435 H

Menertawai Janji-janji Manis Kita pada Diri Sendiri

Setiap kita pasti pernah berjanji. Mulai dari yang sebatas ucapan dalam hati, hingga yang tertulis di atas kertas bertandakan materai. Setiap kita pernah merasakan janji. Mulai dari yang terucap sederhana di bawah pohon jambu hingga yang terikrarkan lantang di hadapan banyak orang. Entah itu diri kita yang berperan menjadi sosok utama, ataukah kita yang menjadi penonton diluar layar.

Dari sekian banyak janji yang kita buat, maka yang paling istimewa sebenarnya adalah janji pada diri sendiri. Karena baik disadari atau tidak, diri kita memiliki hak penuh atas tertunaikan atau tidaknya janji tersebut. Tidak seperti janji pada pihak lain yang bisa dituntut dan tidak terelakkan, janji pada diri sendiri lebih loyal dan bersahabat. Kemudian tentu saja, lebih sulit untuk dilunasi.

Maka sesekali tengadahkan wajah ke angkasa. Kemudian tertunduklah menatap bumi. Mungkin ada baiknya kita megevaluasi diri? Mengingat-ingat daftar janji yang telah terpatri namun tak menetap di hati. Tentang janji tuk perbaiki pribadi,  janji kesungguhan tuk gapai mimpi. Soal janji tiada lagi kata ‘nanti’, tentang janji-janji manis kita pada diri sendiri.

Maka kita boleh tersenyum, boleh menertawakan diri sendiri, 
Ketika pada suatu waktu melihat ukiran kita sendiri tentang janji;

Promises are Promises
Janji adalah Janji


Dan pada kenyataannya kini
Diri masih merindu janji agar terpatri di hati.

Berbahagialah
Sejauh kita tak lupa meyakini
Bahwa janji Tuhan adalah pasti.

Monday, June 30, 2014

Welcome Ramadhan!

Langkahku tergesa. Dua kali lebih cepat dari biasanya. Seakan lupa dengan jerit kaki yang sejak tadi mengadu minta diistirahatkan. "Udaah, tadi kan udah istirahat pas dibawa shalat," Bisikku pada si kaki. Sesekali ia melawan. Minta dimaklumi kelemahannya yang seharian dibawa kemana-mana, menopang tubuh. Aku tersenyum kecut. Ini sama sekali belum seberapa, Ki. Jangan bikin aku malu dengan tingkah cemenmu. Ia seketika bungkam kupelototi.

Sore usai selesai bertugas, usai numpang shalat ashar di lantai tiga asrama, aku membulatkan tekad untuk pulang ke Jakarta. masih ber-SOP kuliah, masih mengenakan almamater, lantas melaju menuju terminal. Entahlah, tapi sore itu tidak seperti pulang kampung biasanya. Angkot yang aku tumpangi melaju cepat sekali. Cepat, dan cerdik. Cerdik, karena tahu-tahu macet Bogor tidak sungguh-sungguh menjadi kendala. Selain karena jalur yang tidak biasa, abang supir begitu lihai berkendara. Menembus batas batas kewajaran nan peraturan. Alih-alih macet di jalur kiri, angkot yang kutumpangi dengan santainya melawan arus di jalur kanan. Gesit. Meski sesekali diterpa klakson kendaraan-kendaraan yang juga tengah miliki tujuan, Disaat seperti itu, aku tak tahu mesti bahagia atau apa. Bersyukur, doaku yang meminta supaya perjalanan dipercepat rasanya semerta-merta dikabulkan. Tidak terjebak macet. Tapi di sisi lain, dahiku berkerut mendapati tingkah-pola yang dilakukan sama angkot itu; sama si abang supir.

Sepanjang perjalanan menuju terminal, aku kerap mengintip jam tangan pemberian seorang adik yang baru saja diservice. Memastikan waktu. HP-ku sudah sejak tadi mati. Janji untuk mengabari orangtua perihal kepulangan pun terpaksa tidak tertunaikan. Satu jam lima belas menit. Mungkin itu rekor hebat untuk perjalanan macet sore hari dari Dramaga ke Baranang Siang di kota Bogor. Adalah sebuah kebahagiaan, ketika pada akhirnya sosok itu tertangkap mata. Bis besar warna merah bertuliskan Bogor - Lebak Bulus. Agra Mas. Aku mengamati sejenak. Diam-diam tersenyum, lantas menghampiri abang tukang roti bakar yang biasa ngetem di sisi kanan-depan Agra Mas. Roti bakar di agra petang selalu saja menyenangkan. :)

Pintu Agra tepat akan ditutup ketika aku melangkahkan kaki. Tidak terlalu penuh, aku berjalan menuju deret barisan ke lima bagian dua kursi. Bersegera menghempaskan tubuh. Duduk. Menarik nafas lega. Seperti biasa, aku akan terdiam beberapa menit memandangi ramai terminal dari jendela, meletakkan tas di sisi kanan, bersandar pada bangku bis. Bertasbih. Tahu-tahu jadi ingin menertawakan diri sendiri. Apa-apaan ini, almamater bertuliskan Institut Pertanian Bogor masih melekat. Rasanya seperti mahasiswa yang kabur dari kampus. Agak tergesa, memang. Pasalnya, malam ini akan menjadi malam pertama untuk shalat tarawih Ramadhan. Kembali kulirik jam. Pukul lima. Semoga keburu.

Aku berusaha meluruskan kaki. Melepas sepatu. Meregangkan otot. Kemudian mulai menikmati roti bakar yang masih hangat. Agra mulai melaju, beranjak meninggalkan kota Bogor -kota hujan. Baru ingat tentang diri yang rupanya (hampir) belum makan sejak pagi. Jatah konsumsi panitia masih bertengger di dalam tas. Ternyata, roti bakar ditambah nasi bungkus sama sekali tidak buruk dalam kondisi demikian. Seperti makan tiga kali porsi normal dalam satu waktu. Hha. Meski pada akhirnya, bagian roti bakar terpaksa kubungkus kembali separuhnya. Merasa terlalu penuh untuk disantap saat itu juga.

Seperti biasa, perjalanan pulang ke Jakarta ketika naik Agra selalu saja membuatku takjub. Sendirian di dalam bis tanpa kenal siapa pun menjadi daya tarik tersendiri. Bebas melihat jalanan tanpa perlu merasa tak enak hati pada kawan satu bangku -karena memang duduk sendirian-. Bebas mengeluarkan buku catatan, mulai menulis tanpa ditanya untuk apa, buku apa, atau kenapa maksa nulis di bis? yak, HP mati. Meski akhirnya tulisan lebih terlihat seperti untaian benang yang terputus-putus akibat gejolak perjalanan, hhe, tapi bagiku ada kepuasan tersendiri. Lagipula, toh siapa juga yang tertarik membaca coret-coretan iseng di dalam bis? maka biar saja tulisannya tidak terbaca~

Perjalalan pulangku kali ini ditemani tayangan TV bis. Bisa ditebak, pembahasan yang takkan berhenti minimal sampai satu minggu kedepan, soal calon pemimpin RI. Sore itu, operator Agra menampilkan dua channel TV, bergantian. Dua channel TV yang -rasanya- siapa pun tahu memiliki keberpihakan politik yang saling berlawanan. Aku menelan lidah. Bisa-bisanya, berita dengan tajuk serupa. Sama-sama survei soal elektabilitas calon presiden - wakil presiden, namun hasilnya benar-benar berbeda. Drastis, bertolak belakang. Sesuai dengan pihak yang masing-masing dukung. Jadi surveinya dilakukan kepada responden pendukung masing-masing, begitu? Ah, alangkah lucunya negeri ini. Dan bersyukurlah kita yang termasuk bagian dari kelucuannya. Ya, kita. Termasuk kamu, termasuk aku. Apapun, hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk bumi pertiwi. Kualihkan pandangan dari TV. Kembali menatap jalanan. Sedikit lagi waktu maghrib.

Azan TV berkumandang. Entah, tapi aku merasa ada energi besar yang datang. Energi positif. Kalau diibaratkan di film-film, tiba-tiba ada cahaya terang yang menyelimuti bumi, berpendar, bersinar, terang. Hangat. Ramadhan tiba! aku tersenyum otomatis. Nyengir. Inilah bulan, dimana musuh bebuyutan manusia ditahan untuk sementara. Inilah masanya, ketika produktivitas mesti dijunjung keras. Demi mendengar lantunan azan semakin syahdu berkumandang, aku melepaskan takbiratul ihram. Shalat maghrib. Ya, shalat maghrib di dalam bis Agra Mas yang tengah melaju, menuju Jakarta. Allahu Akbar.. Takbir itu, suaraku bergetar. Ada butiran yang terjatuh sejak kata pertama. Itu adalah perjalanan pulang Agra Mas yang paling emosional sejauh ini, kurasa. Marhaban Yaa Ramadhan. :')

Dan bagian yang sungguh menghibur hati adalah ketika tiba di rumah, mengucap salam, lantas disambut dengan senyuman ummi tersayang. "Alhamdulillah, anak mama sampe.. macet ya, Sayang?" lalu aku dipeluk, Sambutan hangat yang selalu mampu membuatku rindu. Aku melirik jam, sudah pukul tujuh dua puluh. Ketinggalan shalat isya berjamaah, tapi aku hadir tepat waktu sebelum shalat tarawih dimulai. Alhamdulillah. :)



Semoga bukan sekadar ucapan rindu
Melainkan hadir dari harapan tulus nan syahdu.
Selamat datang, Ramadhan
Ini kami, yang sudah sejak lama menanti kehadiranmu..

Saturday, June 7, 2014

Bergerak!

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika di dalam hutan.

Imam Syafii'


Bergerak, atau mati! :D SEMANGAT!
Leave (y)our comfort zone, welcome world!

Tuesday, June 3, 2014

Surat untuk Muslimah

Untukmu muslimah.
Assalamu’alaikum wr.wb.


Apa kabarnya dirimu? Apa kabar gerangan iman dalam dadamu? Adakah ia baik-baik saja? Semoga selalu dalam dekap hangat-Nya. Semoga ruh-mu selalu dalam keyakinan penuh akan-Nya. Kuharap demikian. Karena jujur saja, semakin kesini, aku semakin khawatir akan keadaanmu. Semakin cemas mengingat godaan dunia terhadapmu.
Kau tentu masih ingat sederet kisah yang beberapa waktu belakangan menimpa kaum kita. Ada tenaga kerja yang disiksa, ada ibunda yang membunuh buah hatinya. Juga ada cerita bagaimana harga diri begitu murah dikabarkan melalui media massa. Baris daftar peristiwa yang mengusik nurani kita, tentu saja.
Shalihah, setiap kita selalu punya pilihan-pilihan dalam hidup. Tentang pilihan dalam berlisan, tentang pilihan menu apa yang hendak dikonsumsi; yang hendak kita makan. Tapi Kau pun pasti tahu, ada hal-hal yang sejatinya memang tak bisa kita pilih. Dan dilahirkan sebagai seorang perempuan, adalah salah satu hal ajaib tersebut.
Dahulu, aku berfikir bahwa menjadi perempuan tidaklah begitu keren. Dalam beberapa aspek, aku merasa bahwa dunia begitu mendeskriminasi. Aku tidak setuju bagaimana anak perempuan dilarang-larang memanjat pohon, sementara anak laki-laki tidak. Bertanya-tanya, mengapa anak laki-laki dipercaya pulang malam, sementara anak perempuan rasanya lebih di-protektif-kan. Tidak terlalu penting, memang. Tapi jiwa seorang bocah selalu saja punya fikiran yang abstrak. Sederhana, namun seyogyanya bermakna. J
Tapi beruntung, kita dilahirkan dengan fitrah sebagai seorang pengiman-Nya. Sebagai seorang muslimah. Lambat laun aku belajar, bahwa menjadi keren adalah konsekuensi mutlak bagi siapapun yang memiliki keyakinan penuh akan kalimat luar biasa itu; syahadat. Termasuk aku, termasuk kamu- muslimah. Sosok muslimah tahu-tahu menjadi sangat keren di mataku. Lihatlah bagaimana ibunda Khadijah dijuluki ‘The Princess of Mecca’, juga bagaimana kecerdasan Asiyah  binti Abu Bakar yang bahkan menjadi tempat bertanya bagi para sahabat. Urusan sederhana seperti memanjat pohon jadi tidak ada apa-apanya ketika aku mendengar kisah tentang seorang muslimah tangguh bernama Khaulah Al Azwar. Muslimah keren yang menunggangi kuda di tengah hiruk pikuk medan perang menghadapi bangsa Romawi.
Hei, bukankah itu luar biasa? Ternyata gelar perempuan yang kita sandang begitu istimewa. Lebih dekat lagi, cobalah lihat ibunda kita. Sosok yang disebut-sebut oleh kanjeng nabi bahwa surga berada di bawah telapak kakinya. Perempuan yang disebut-sebut merupakan madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Dan kabar baiknya, kita adalah calon-calon mereka, wahai Ukhti Fillah. In syaAllah.
Lantas, apa kabarnya dirimu? Apa kabar gerangan iman dalam dadamu? Adakah ia baik-baik saja? Semoga selalu dalam dekap hangat-Nya. Semoga ruh-mu selalu dalam keyakinan penuh akan-Nya. Kuharap demikian. Karena jujur saja, semakin kesini, aku semakin khawatir akan keadaanmu. Semakin cemas mengingat godaan dunia terhadapmu.
Masa kita dengan para ashabiyah boleh jadi tidak sama. Namun, ketetapan sunatullah, bahwa kita memegang amanah sebagai muslimah jelas tiada berubah. Muslimah berganti dari masa ke masa, dan di atas pundaknyalah masa depang bangsa menaruh pondasinya. Kau tentu masih ingat sederet kisah yang beberapa waktu belakangan menimpa kaum kita. Coba sejenak pejamkan mata, hadirkan semangat ibunda-ibunda kita terdahulu. Apakah yang akan mereka lakukan, jika hidup pada zaman kita? Adakah berpangku tangan? Ataukah melakukan aksi-tindakan? Lantas jalan mana yang hendak kita torehkan untuk semesta?
Semoga Kau, selalu dalam dekap hangat-Nya.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

Dari Aku,
yang memerhatikanmu,
sedari dulu.

(Tulisan partisipasi dalam acara 'Perempuan Punya Cerita' LDK Al-Hurriyyah IPB, Mei 2014)

Karakter (Sebuah Kunci Peradaban)



Pendidikan di Indonesia masih menjadi kendala. Tidak hanya menyangkut persoalan klasik seputar biaya, namun merambah pada aspek-aspek lainnya. Bicara pendidikan tidak sesederhana membicarakan lembaga formal dimana kegiatan belajar-mengajar berlangsung. Bicara pendidikan, berarti bicara tentang faktor mendasar sebuah peradaban dan karakter manusianya.
Dewasa ini, pendidikan dirasa mengalami penyempitan, bahkan pergeseran makna. Ironisnya, tidak jarang kontribusi pergseran makna tersebut justru hadir dari pihak yang disebut-sebut berpendidikan, bahkan dari instansi yang mengatas-namakan pendidikan. Pemberian kunci jawaban dari pihak sekolah secara legal kepada siswanya dalam UN (ujian nasional) merupakan salah satu contoh nyata kontribusi pergeseran makna tersebut. Dengan alasan demi kelulusan peserta didik, atau demi prestasi sekolah, hal semacam ini jadi terkesan lumrah dilakukan. Padahal, sekolah-lah yang seharusnya menjadi tempat dimana pendidikan tentang kejujuran berlangsung. Bukan sebaliknya.
Pendidikan yang sejatinya berorientasi pada proses serta menyelaraskan antara kuantitas dengan kualitas, kini cenderung menjadi fokus pada hasil semata. Di bangku sekolah, kecurangan dalam ujian seperti yang telah disebut di atas menjadi contohnya. Di bangku pemerintahan pun demikian. Tidak sedikit, -banyak malah- calon legislatif yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan kursi di pemerintahan. Maka tak heran jika output yang di hasilkan adalah para siswa yang stress menghadapi UN, atau para calon legislatif gagal yang tahu-tahu memenuhi rumah sakit jiwa usai pemilihan umum. Hal tersebut tidak lain karena orientasi yang diproriataskan adalah pada hasil, dan bukan pada proses. 
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pendidikan merupakan faktor penting yang memengaruhi peradaban manusia. Dengan kata lain, pendidikan berkontribusi besar dalam kesejahteraan suatu bangsa. Menurut studi Transparency International tahun 2013, Indonesia berada di peringkat ke 114 dari 117 negara dalam peringkat negara-negara tidak korup. Itu artinya, Indonesia masih berada dalam jejeran teratas kategori negara dengan tingkat korupsi yang tinggi. Korupsi itu sendiri telah menjadi tersangka utama peyebab kesejahteraan bangsa bumi pertiwi yang terhambat meski sumber daya terkenal kaya. Hal tersebut sedikit-banyak menunjukkan kapasitas pendidikan kita yang masih terbilang rendah.
Dalam proses pendidikan, peran guru sangat penting. Hakikatnya, guru bukan sekadar penyampai materi bahan ajar, melainkan juga menjadi model bagi para siswanya. Mengamati fenomena persoalan pendidikan di Indonesia, maka hal mendasar yang perlu diperhatikan adalah pendidikan karakter, dan guru berperan besar dalam mencetak karakter-karakter emas Indonesia. Ketika seorang guru memberikan teladan baik, maka akan terbentuk jejaring, mata rantai karakter yang positif. Dan sebaliknya, cerminan guru yang tidak berkarakter baik akan memberi contoh dan pada akhirnya memberikan dampak negatif bagi perkembangan karakter siswa.
Sayangnya, saat ini kondisi guru banyak yang memprihatinkan. Bahkan, sudah tidak asing lagi pemberitaan media yang mengabarkan kasus kekerasan terhadap anak dengan gurunya sendiri bertindak sebagai pelaku. Kasus terbaru muncul di Medan beberapa waktu lalu.  Pada April 2014, Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol. Agus Rianto, Polresta Medan menangani kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang guru terhadap murid perempuannya yang masih berusia tujuh tahun. Bagi pelaku, mungkin sederhana saja melakukan tindak kejahatan tersebut dengan memanfaatkan posisinya sebagai guru. Padahal sorang guru sejatinya digugu dan ditiru.
Untuk mengatasi persoalan karakter ini, maka perlu adanya seleksi bagi para guru. Ada fenomena memprihatinkan yang hadir di tengah-tengah masyarakat kita, yakni pola fikir masyarakat yang menganggap profesi guru merupakan profesi kelas bawah dan tidak berkelas. Bukan hanya itu, banyak dari anggota masyarakat yang menggampangkan persoalan menjadi guru. Sehingga hasilnya, benyak dari guru yang tidak benar-benar berniat untuk menjadi pendidik, dan contoh di atas bisa jadi adalah salah satunya. Indonesia semakin rindu akan guru-guru sejati yang disebut-sebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Guru yang professional dituntut untuk memahami kebutuhan peserta didiknya dari berbagai aspek mulai dari fisik, moral, sosial, juga kulturalnya. Selain itu, untuk pengembangan karakter peserta didik, tentu diperlukan sinergi antara pendidikan formal di sekolah dengan pendidikan informal di rumah. Dengan kata lain, kualitas model yang ditiru oleh peserta didik memegang peranan sangat penting dalam pengembangan karakter. Model tersebut yakni guru, dan lebih dalam lagi, adalah orang tua.    
Upaya pengembangan pendidikan karakter ini diharapkan akan memberikan kontribusi positif untuk kegiatan pembelajaran. Karakter yang merupakan pilar dasar proses pendidikan akan membawa dampak baik yang berkesinambungan. Hasil survei Program for International Student Assessment (PISA) dalam naungan Organization Economic Cooperation and Development (OECD) yang diumumkan pada Desember 2013 lalu mengatakan bahwa tingkat intelegensia siswa Indonesia menduduki peringkat ke 64 dari 65 negara. Dengan adanya pendidikan berbasis karakter, diharapkan hasil survei tersebut mengalami perkembangan positif –dengan orientasi utama pada proses, tentunya-. 
Pendidikan di Indonesia masih menjadi kendala. Tidak hanya menyangkut persoalan klasik seputar biaya, namun merambah pada aspek-aspek lainnya. Bicara pendidikan tidak sesederhana membicarakan lembaga formal dimana kegiatan belajar-mengajar berlangsung. Bicara pendidikan, berarti bicara tentang faktor mendasar sebuah peradaban dan karakter manusianya. Indonesia masih memiliki harapan dalam proses pendidikannya. Peringkat pertama siswa terbahagia hasil survei International Student Assessment (PISA) yang disandang oleh Indonesia cukup memberikan kabar baik pada dunia. Bukan tanda bodoh karena bahagia di atas derita, melainkan karena Indonesia masih memiliki harap dan cita. Semoga.

(Ditulis dalam rangka seleksi Mapresma TPB IPB 2014)