Sunday, March 30, 2014

Kata-Kata Laut



KATA-KATA LAUT
“Karena Selalu ada Cara dalam Setiap Kata”
rizky150312

Deburan ombak, menghantam. Menghujam karang.
Desiran pasir, suara angin yang terbang.
Parangtritis.
#
Yogyakarta, Mei 2000.

            “Reina sayang, apa mimpimu, Nak?”
            “Ketemu Mas Rean.”

Yogyakarta, September 2003.

            “Reina, kamu tahu apa itu mimpi?“
            “Ke negeri sakura, ketemu sama Mas Rean.”

Yogyakarta, Januari 2004.

            “Reina, kenapa kemarin kamu bolos sekolah?!”
            “Ngatur rencana buat mimpi Bu.”
            “Mimpi?”
            “Ya. Ke Jepang biar ketemu Mas Rean...”

Yogyakarta, Februari 2007.

            “Para patriot! Perjuangan kalian di sekolah ini tinggal sesentil jari. Sedikiiit lagi, kalian akan menempati rumah dinas baru. Rumah universitas tempat kalian kelak akan meraup ilmu. Bentangkan sayap selebar-lebarnya! Percaya dan yakin! Gusti Allah akan selalu bersama kalian. Bekerja keras, percaya, dan tekun. Raih universitas impian kalian, raih mimpi kalian!” Suaranya menyapu seisi ruang kelas. Bapak berkacamata itu lantas tersenyum. Senyum yang seakan tak pernah tanggal dari bibirnya. “Jadi, apa mimpimu?” Pak Sugeng melangkahkan kaki menuju papan tulis hitam. Tangannya menggenggam sebatang kapur yang tingginya tinggal 3 cm. Beliau lalu berbalik arah menghadap murid-murid.

            “Herman?”

            “Masuk UGM, Pak. Jadi psikolog.”

            “Sinta?”

            “Guru. Seorang guru yang berbudi luhur,” jawab Sinta mantap.

            “Bagus, kalau kamu, Arkaf?”

            “Presiden, Pak!” 

“Huuu!!” seketika kelas ricuh mendengar jawaban singkat Arkaf.

            “Haha, bagus Arkaf! Kau punya semangat yang tinggi. Lalu kamu, Reina?” kini tangan Pak Sugeng menunjuk  ke arahku. Matanya menagih jawaban atas pertanyaan yang sama seperti yang ia ajukkan kepada teman-temanku. Aku diam dalam ramai. Menjawab di dalam hati. Membicarakan mimpi sama saja dengan mengulang kenangan-kenangan masa lalu. Entah apa itu sesuatu yang disebut mimpi. Satu kata yang mampu memutar perasaan, menghasilkan beribu kata, mengoyak hidupku, menumpahkan secangkir kopi panas di musim hujan. Mengingatkanku pada keluarga.

            “Reina, apa mimpimu?” Pak Sugeng mengulang pertanyaannya. Seisi kelas hening menunggu lontaran kata yang akan aku ucapkan.

            “Mas Rean” jawabku seraya tersenyum simpul.

            “Mas Rean?” seisi kelas memandangku, seakan tak yakin atas jawaban yang aku berikan.

Ya, mimpiku adalah Mas Rean. Tidak kurang, tidak lebih.
#
“Permisi Mbak, mau sewa tikarnya?” seorang ibu tua mendekatiku. Aku lantas membuka kacamata hitam yang sejak tadi kukenakan. Berusaha memandang wajahnya lebih jelas. Segurat senyum terlukis meski dapat kulihat matanya menyuarakan lelah. Ia membawa beberapa tikar warna-warni dengan alas kaki sandal jepit karet yang sudah tipis. Satu hal yang membuatku kagum. Wanita tua itu mengenakan jilbab. Jilbab biru yang senada dengan panorama laut fajar ini.

“Mbak? Mau sewa tikarnya?” kudengar ia mengulangi tawarannya.
“Oh,” kupakai kembali kacamata hitamku. “Tidak bu. Terimakasih” jawabku lantas tersenyum tipis.
Nggeh,makasih ya, Mbak” wanita itu pergi. Perlahan menjauh, hilang bersama deburan ombak.
#
Yogyakarta, Oktober 1999.

“Reinaa...!” Mas Rean berlari ke arahku. Matanya mengisyaratkan sesuatu. Entah bahagia, entah terharu, entah apa itu namanya.

“Apa, Mas?” aku menatapnya sejenak dari kejauhan lantas kembali asyik duduk dengan buku gambar dihadapanku. Mas Rean terus menghampiriku. Terdengar embusan nafasnya yang terengah-engah. Menyadari aku yang tak begitu peduli padanya –atau lebih tepatnya pura-pura tidak peduli-, ia menarik paksa buku gambar yang sedang kupegang.

Iih Mas Rean apaan sih, kenapa teriak-teriak? Kangen sama Reina yaa?” Aku berdiri, tersenyum jahil pada sosok dihadapanku.

“Bukan Rein, bukan. Mas dapet kabar dari Ustad Alim! Katanya Mas dapet beasiswa buat belajar di negeri sakura!” Mas Rean tersenyum diantara embusan nafasnya yang masih belum beraturan.

“Negeri sakura? Apa itu, Mas?” Aku yang tak mengerti hanya mengernyitkan dahi.

“Jepang, Dek! Yang dulu pernah ngejajah kita,” Mas Rean mengembalikan buku gambar milikku. Nyengir.

“Itu dimana, Mas? Di samping rumahnya Yayan ya? Yang deket sama tukang gudeg?” Mataku berbinar. Mengingat aku yang sering bermain dengan si Yayan, sepupu jauh kami. Betapa enaknya kalau Mas Rean belajar di samping rumah Yayan. Kalau mau pulang bermain aku takkan sendirian lagi, bisa bareng sama Mas Rean pulang sekolah.

“Bukan! Ini lebih hebat lagi, Rein! negeri sakura itu sebuah negara. Sama kayak Indonesia.

“Eh? Berarti bukan di Indonesia?” aku menekuk alis.

“Bukan lah dek... Jepang itu jauuuuh,” matanya memandang ke atas. Kuikuti pandangannya, tapi tak ada apapun disana. Justru aku menemukan secercah cahaya ketika memandang Mas Rean.Ia terlihat sungguh bercahaya. Cahaya yang tidak kasat mata tapi entah bagaimana aku bisa melihatnya.

“Mas Rean mau pergi jauh?” tanyaku pelan.

“Mas mau menggapai mimpi, dek.

“Mimpinya jauh ya, Mas?” yang ditanya hanya mengangguk. Sejurus kemudian seutas senyum muncul di wajahnya. “Mau pergi ke Jepang?” sosok bermata teduh dihadapanku itu kembali mengangguk sementara mataku mulai berkaca-kaca.

Beberapa hari yang lalu aku memang mendengar cerita dari Mbak Gita, salah satu pengawas kami di panti. Cerita tentang Mas Rean yang katanya sedang mengejar sesuatu. Sesuatu yang ia sebut-sebut sebagai ‘mimpi’.

Mimpi?

Tiba-tiba Mas Rean mendekapku erat.

“Mas akan kembali. Janji,bisiknya di telinga kananku. Seketika air mataku tumpah, membasahi bahu satu-satunya saudara sedarahku itu.

#

            Seperti arti dari Parangtritis, air yang mengalir dari batu.

Aku memerhatikan sekelompok anak yang sedang berlarian di tepi pantai. Mengejar kepiting, melawan ombak kecil. Mereka memungut beberapa batu karang di sisi pantai. Membasuhnya dengan air laut lantas mengangkatnya tinggi-tinggi. Membiarkan sang mentari pagi memantulkan cahayanya. Seketika dapat kulihat seberkas kilauan dari batu karang itu.Semakin terlihat berkilau karena senyum para pemegangnya yang memamerkan gigi.

Lalu setetes air jatuh. Setetes air yang mengalir dari batu....

Parangtritis.

#

Yogyakarta, Desember 1999.

“Mas, jadi ini yang namanya Malioboro?” aku menggenggam tangan Mas Rean yang tubuhnya sekitar 15 cm lebih tinggi dari tubuhku. Mas Rean adalah satu-satunya keluarga sedarah yang aku miliki.Kami kehilangan orangtua sejak usiaku 5 tahun dan Mas Rean 13 tahun. Bapak dan Ibu mengalami kecelakaan hebat 5 tahun yang lalu, ketika mereka hendak pulang ke rumah usai bekerja. Meski awalnya keluarga Yayan mau mengajak kami tinggal di rumah mereka, pada akhirnya kami tinggal di panti asuhan. Sebuah panti asuhan sederhana yang terletak di pinggiran kota Yogyakarta.

“Iya, Rein. Malioboro itu kayak jantungnya Yogya. Malahan turis-turis itu bilang, mereka belum ke Yogya kalau belum ke Malioboro,” jelasnya sambil menunjuk sekumpulan orang berambut pirang. Mas Rean menarik tanganku, memaksaku agar terus melangkah kedepan. Aku tak berkata-kata sambil terus memerhatikan sekeliling. Matahari sore, suara gaduh dan ricuh, berdesakan. Sesekali terdengar jerit klakson mobil dan suara ketukan sepatu kuda. Tempat ini benar-benar menakjubkan.

“Rein, Malioboro itu dari bahasa Sansekerta. Artinya ‘karangan bunga’. Bagus kan?” Mas Rean menunduk, menatap mataku sambil tersenyum riang. Aku hanya mengangguk sambil terus melangkah maju. Kueratkan genggaman tanganku pada tangan Mas Rean.

#

Dulu aku tak tahu kalau tempat itu adalah bagian besar dari kita. Tempat almarhum Bapak mengayuh becak, tempat almarhumah Ibu menjajakan dagangan. Ah Mas, bahkan dahulu aku juga tak tahu bahwa alasan tempat itu disebut Karangan Bunga adalah karena sejarahnya yang selalu penuh dengan karangan bunga tiap kali keraton Yogya mengadakan perayaan. Aku terlalu ‘buta’ sementara kau seakan tahu segalanya.Tapi, tahukah kau kalau sekarang aku sedang menuliskan namamu di atas pasir pantai?

Mas Rean

#

Parangtritis, Yogyakarta
Desember 1999.

            Mas Rean berlari menantang ombak, sementara aku tetap berdiri di tepi.

            “REINAA..!” ia berteriak dari kejauhan. Suaranya menghasilkan gaung sehingga langit ikut  menyuarakan namaku. “JANGAN SEDIH! KITA PASTI KETEMU LAGI” mataku berair mendengar suara Mas Rean. Aku berlari, menghampiri Mas Rean yang sedang bertolak pinggang di tengah deburan ombak pantai Parangtritis.

            “Mas Rean yang jangan sedih! Reina nggak apa-apa kok,” aku berbohong. Kusembunyikan air mataku yang mulai menetes. Kubasuh wajahku dengan air laut. Asin.

            “Ah kamu ini, Dek” Mas Rean memercikkan air ke arahku sambil tertawa kecil. “Jangan bohong.. pokoknya Dek Reina jangan cengeng. Toh kita sama-sama berjuang. Nanti kalau memang takdirnya, kita pasti ketemu lagi. Mas janji, ia berkata sambil membelai kepalaku. Sepertinya upaya dustaku sia-sia di mata Mas Rean.

            “Hahaha...” aku tertawa. “Mas Rean jangan sedih. Walaupun di negeri sakura nggak ada Reina, tapi Reina selalu ada di Mas Rean” aku menunjuk dirinya. Mencoba tersenyum di tengah pertahanan untuk membendung air mata. Ia kembali tertawa. Kembali memercikkan air. Kubalas kejahilannya hingga terjadi perang air yang segera berganti menjadi perang pasir. Tubuh dan pakaian kami seketika bermandikan pasir. Tapi aku tak peduli. Saat-saat ini terlalu indah untuk diakhiri. Aku bahkan lupa kalau besok Mas Rean sudah harus pergi. Pergi mengejar mimpinya, pergi meninggalkanku.

            “Allahu Akbar, Allahu Akbar...

            “Reina! Ayo pulang, sudah maghrib!”

#

Mas Rean

            Kupandangi tulisan itu sebelum akhirnya terhapus perlahan terkikis ombak. Matahari mulai menaiki singgasananya, menerpakan cahanya kepadaku. Sekumpulan burung terbang di langit lepas. Membentangkan sayap mereka, membentuk suatu formasi indah. Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. Kurogoh saku jaket yang sedang aku kenakan. Secarik kertas lusuh yang terlipat rapi menjadi segi empat. Kertas itu kuterima sejak dua minggu yang lalu. Sejak itu pula aku tak berani membuka lipatannya. Aku terlalu takut pada fakta apa yang akan kudapati. Kutatap kertas itu lamat-lamat. Dua minggu ini aku telah berusaha menyesuaikan keadaan setelah aku terpukul atas mimpiku yang tak kan bisa lagi terwujud di dunia.

#

Tokyo, Agustus 2011.
Untuk adekku tersayang di Yogya,
Reina.

Assalamualaikum dek, gimana kabarmu di Yogya? Mas kangen..
Rein.. Mas, Mbak Umi sama si kecil Trias Alhamdulillah baik disini. Di Jepang, beberapa bulan yang lalu, lagi musimnya pohon sakura berbunga.  Di taman deket rumah Mas banyak pohon sakura. Disini, nikmatin indahnya pohon sakura itu disebut ‘hanami’ Dek. Mas pengen banget kamu bisa liat cantiknya bunga sakura. Insya Allah ya Reina sayang… 

Gimana Yogya? Masih panas?

Mas inget suratmu bulan Mei lalu. Kamu ngeluh tentang kota kelahiran kita yang makin lama makin panas. Jujur, Mas geli pas baca suratmu. Kan udah Mas bilang, kenakan jilbabmu Rein.. biar adem. Sekaligus ngademin hati. Tapi Mas ga maksa kamu. Lagipula, Allah selalu punya cara.... tapi jangan bosen ya kamu, Mas ingetin mulu tentang ini. Mungkin emang butuh waktu sampai kamu betul-betul ngerti kenapa jilbab itu wajib. Dan Mas nggak sabar nunggu waktu itu tiba.Oh iya, Mas punya kabar gembira. Desember ini Mas bakal pulang ke Indonesia, pulang ke Yogya! Sekitar satu bulan, habis itu Mas balik lagi ke Jepang. Tapi Insya Allah, kalau semua urusan disini udah selesai, tahun depan Mas bakal paten pulang ke Indonesia. Nanti kamu nggak bakal kesepian lagi. Ada Mas, Mbak Umi sama Trias yang bakal nemenin kamu.

 Rein, Mas bangga denger kabar kamu yang dapet kuliah jalur beasiswa. Maafin Mas ya, nggak bisa nemenin kamu di waktu-waktu awal kuliah. Tapi Mas pengen liat kamu pake toga nanti, waktu wisuda. 12 tahun Mas gak ketemu kamu. Mas kangen Dek. Kangen makan gudeg bareng kamu disamping rumahnya Yayan. Kangen lari-larian di pantai bareng kamu. Pasti sekarang kamu udah bukan bocah ingusan lagi ya.. udah ga cengeng. Makin cantik, (apalagi kalau jilbabnya dipake). Hehe....

Oh iya, gimana kabar panti kita? anaknya Mbak Gita sudah melahirkan belum, Rein? Mas dikasih tau Yayan, katanya kamu sekarang suka bantu-bantu Mbak Gita dirumahnya, ya? Makasih ya Rein, kamu selalu bikin Mas bangga. Mbak Umi bilang, katanya mau bikinin kamu sushi nanti kalau pulang ke Yogya. Atau ada titipan sebelum Mas pulang? 

Dek, tunggu Mas-mu ini pulang. Nanti kita jalan-jalan lagi ke Candi Prambanan, ke Keraton Yogya. Ke Malioboro dan Parangtritis yang kabarnya makin ramai sekarang. Mas gak sabar mau liat kampung halaman. Doain Mas ya dek....

Semoga kamu selalu dalam lindungan Gusti Allah. Amiin
Wassalamualaikum
Salam sejuta kangen,
Mas Rean.

#

            “Permisi kak,” lamunanku buyar oleh suara seorang gadis kecil berkepang dua yang menarik ujung jaketku. Tangannya menggenggam sebuah sekop pasir berwarna merah muda. Kuurungkan niatku, memasukkan kembali ‘kertas itu’ ke dalam saku jaket.

            “Iya? Ada apa,Adik Kecil?” aku membungkukkan badan, berusaha menyetarakan tinggiku dengannya.

            “Kakak nginjek... gunung pasir,” ia menunjuk kakiku yang tepat berada di atas gundukan pasir.

            “Astaghfirullahal Adziim.. maaf, maaf... kakak nggak sengaja,” aku melompat ke belakang secara otomatis. Memohon maaf atas kecerobohanku.

            “Iya nggak apa-apa kok. Aku bisa, bikin gunung pasir lagi,” ujar gadis kecil itu sambil mengangkat sekop pasir merah mudanya. “Kakak mau bantu?” tanyanya seraya menjulurkan sekop yang ada di tangannya.

            “Bantu bikin gunung pasir?” tanyaku balik. Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum lebar. Aku balas tersenyum seraya meraih sekop dari tangannya. 

#

Yogyakarta, Desember 2011.

            Hari ini Mbak Gita dan pengawas yang lain pergi bersama anak-anak panti.Mereka menghadiri undangan dari salah satu yayasan sosial di Yogyakarta. Sementara aku tidak ikut dan memilih menjaga panti. Selain karena ada tugas yang harus kuselesaikan, Mbak Gita juga memintaku untuk menerima seorang tamu yang kabarnya hari ini mau datang.

            Aku sedang duduk di teras panti ketika wanita itu datang. Wanita asing yang tidak asing dalam pandangan mataku. Ia berjalan mendekat sambil menggendong seorang anak perempuan dan menenteng beberapa barang bawaan. Matanya teduh meski kulihat ada badai disana. 

            “Assalamualaikum,” ucapnya pelan meski terdengar sedikit bergetar.

            “Waalaikum salam. Cari Mbak Gita ya, Mbak?” kujawab salamnya sambil nyengir. Berusaha menghapuskan badai di matanya yang samar-samar muncul dalam imajinasiku.

           “R-e-i-n-a kan?” wanita itu justru memberikan pertanyaan yang membuat dadaku bergemuruh. Dari mana tahu namaku? Aku memutar segala kemungkinan yang ada. Mendaftar pilihan ganda dalam sekejap dan memilih beberapa diantaranya.

“Iya, aku Reina, Mbak” jawabku sambil mengernyitkan dahi. Wanita itu diam. Ia tak menjawab, tak mengatakan apa-apa sementara gadis kecil yang digendongnya sedang tertidur berbantalkan lengan kiri wanita itu. Tiba-tiba ia memelukku.

            “Ini Mbak Umi, sayang.... Reina cantik, apa kabar?” wanita itu membisikkan serentet kalimat yang menumpahkan air mataku. Aku membalas pelukannya tanpa berkata-kata. 

#

            “YEE... gunung pasirnya udah jadiii...!” gadis kepang dua di hadapanku melompat-lompat girang. “Makasih ya kak...” matanya berbinar memandang gunung pasir yang baru saja kami buat bersama.

            “Kembali kasih...” aku membelai rambutnya. Dia lantas mengalihkan pandangan kepadaku.

            “Kakak... jongkok sini deh,” 

            “Eh? Iya, kenapa sama gunung pasirnya?” tanyaku seraya mematuhi perintahnya. Gadis itu kini berada tepat di hadapanku. Aku dapat melihat matanya yang bulat seperti kacang almond. Ia tak berkata apa pun lantas menarik pelan kacamata hitam yang sejak tadi aku kenakan.

            “Kakak lebih cantik kalau begini,nggak usah pakai kacamata hitam” gadis itu kembali menunjukkan senyum lebarnya. 

            “Te.. terimakasih” jawabku salah tingkah. Rambut kepang duanya melambai tertiup semilir angin. Ia mengembalikan kacamata hitam milikku. Kuambil seraya mengembalikan sekop merah muda miliknya.

            “Iya, kakak cantik. Nanti kalau sudah besar, Aku mau kayak kakak yang baik hati dan pakai kerudung. Tapi kerudungku nanti warnanya nggak coklat kayak kakak. Aku maunya pakai kerudung yang warna pink.”Aku tersenyum mendengar perkataannya. Kagum atas niatan mulianya sejak usia sedini itu,‘baik hati dan pakai kerudung’.

“Itu mimpi kamu?” tanyaku sambil kembali berdiri.

       “Iya!” jawabnya mantap lantas ia pergi berlari menghampiri kedua orang tuanya yang memanggil dari kejauhan.

            “Sayaaang! Ayo kesini...! Papa nemu kepiting!”

#

Yogyakarta, Desember 2011.

Kubalas pelukan Mbak Umi sementara air mataku semakin deras menumpahkan rasa haru. Dugaanku benar, wanita berjilbab hijau muda yang sedang memelukku ini adalah kakakku. Anak yang sedang digendongnya adalah keponakanku, Trias. Aku bertemu dengan kakak dan keponakan yang belum pernah kutemui sebelumnya. 

            Tunggu... hei, lalu kemana sosok itu?

         Aku melepaskan pelukan Mbak Umi. “Mbak, Mas Rean mana?” mataku mencari-cari ke sekeliling. Berharap menangkap sosok yang begitu aku rindukan.

           “Iya nanti juga sampai. Sabar ya Reina...” Mbak Umi hanya tersenyum tipis. Aku dpat melihat garis-garis mukanya yang menandakan betapa ia lelah atas perjalanan jauh.

            “Oh iya, Astaghfirullah.. ayo Mbak, masuk dulu…” aku memersilahkan Mbak Umi masuk ke dalam panti. Membantunya membawa barang bawaan berupa sebuah ransel hitam dan sebuah tas jinjing berwarna putih. Sementara Trias kecil masih tertidur dalam gendongan ibunya.

#

            Diam-diam pipiku memerah mengenang perkataan gadis kecil barusan. ‘Iya, kakak cantik. Nanti kalau sudah besar, Aku mau kayak kakak yang baik hati dan pakai kerudung’. 

Aku ingat surat yang terakhir kau kirimkan padaku, Mas. Peringatan terakhir darimu sebelum kau pulang. Kalau kau tak rajin mengingatkan adikmu ini, aku tidak pernah tahu dengan cara apa Allah memberikan hidayah-Nya agar aku berhijab, mengenakan jilbab. ‘Tapi Allah selalu punya cara’, kalimat itu juga yang sering kau ulang-ulang dalam suratmu. 

Mas, menurutku kau adalah cara Allah untuk menunjukkan kebesaran-Nya, padaku….

#

“Mas Rean sudah pulang Rein,” Mbak Umi mengulangi kalimatnya untuk yang ketiga kali.Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berharap pendengaranku sedang terganggu.

“Pulang? Iya,  pulang ke Yogya kan Mbak??” perasaanku kacau balau. Aku tahu Mbak Umi sudah mengulang kalimat itu beberapa kali. Sudah menjelaskan maksud kata ‘pulang’ itu berkali-kali. Tapi fakta ini terlalu keras menamparku. Terlalu keras untuk kucerna dengan baik ditengah pengharapan besar atas mimpi yang sejak dulu kunanti.

“Jujur, Dek. istri mana yang tidak sedih ditinggal pulang suaminya? Terimalah ini dengan lapang dada. Allah selalu punya cara…” Mbak Umi memelukku. Ia menghiburku ditengah ujian berat yang sedang menimpanya. Mungkin kepedihan yang ia rasakan sama seperti saat aku menahan tangis melepas kepergian Mas Rean ke negeri sakura. Sama, atau mungkin lebih berat.

“Ya, Mbak... tapi Mas Rean sudah janji...” aku tak mampu berujar banyak ditengah badai yang kini bukan hanya ada di mata Mbak Umi, tapi juga ikut melandaku. Mengombang-ambingkan perahu yang telah kubangun selama 12 tahun, menenggelamkan mimpiku dalam seketika. 

Mas! Bukannya Mas sudah janji mau kembali?! Padahal Reina yakin Mas Rean nggak akan mengingkari perkataan Mas sendiri. Tapi kemana Mas sekarang?! Pergi tanpa pamit!

“Reina sayang…” dapat kudengar isakan tangis Mbak Umi yang amat memilukan. Diikuti dengan suara Trias yang tiba-tiba terbangun. “Ikhlas ya… ucapkan dulu Innalillahi wa Inna Ilaihi Raajiuun” Mbak Reina membisikkan kata-kata itu lembut di telingaku. Mendamaikan hati kecilku dalam kurun waktu sepersekian detik.

Innalillahi wa Inna Ilaihi Raajiuun

#

            Ya, Mas Rean telah berpulang kepada-Nya tepat sehari setelah kepulangan ke tanah Yogya. Ia dan tujuh orang temannya ditelan palung Parangtritis bersama gulungan ombak. Tidak ada yang tahu bahwa musibah besar itu akan terjadi di tengah kebahagiaan ketika mereka sedang melepas rindu setelah sekian lama tak bersua. Tidak ada yang tahu mengapa papan pengumuman tentang bahaya berenang di pantai pada hari itu seakan tak terbaca. Aku pun tak tahu mengapa Mas Rean tidak lebih dulu memberitahuku tentang kepulangannya ke tanah air. Mengapa pada hari itu ia lebih memilih mengadakan reuni bersama teman-teman masa Aliyahnya. Aku tak pernah tahu mengapa Parangtritis tega menarik paksa Mas-ku pada hari itu, Desember 2011.

       Aku memandang jauh ke arah pantai. Membayangkan sosok Mas Rean yang meneriakkan namaku sambil bertolak pinggang. 

Mas....
Kau adalah satu dari sekian banyak cara Allah menunjukkan kebesaran-Nya,
Salah satu dari sekian banyak nikmat Allah yang telah Dia limpahkan kepadaku.
Kau terbang ke negeri sakura untuk mengejar mimpi,
Tanpa kau sadari bahwa dirimu telah menjadi mimpi tersendiri untukku.
Kau menjadi anganku di setiap senja,
Ketika matahari Parangtritis mulai bersembunyi malu-malu.
Kini kau pergi begitu saja,
Menindas mimpi yang 12 tahun ini telah membelenggu....

Aku mengeluarkan kembali kertas pemberian Mbak Umi dari saku jaket dan membuka lipatannya perlahan. Dua sisi, tiga sisi, empat, enam.. dan sempurna. Kini aku dapat melihatnya dengan jelas. Tulisan tangan yang rapi dan sangat aku kenal....

Mimpiku,
impianku.
Aku yakin Kau berkenan untuk mengabulkannya, Rabb.
1.         Menjadi hamba-Mu yang shaleh, berbakti pada orang tua.
2.         Menjadi seorang abi yang baik untuk anak-anakku, menjadi suami yang baik untuk istriku, menjadi kakak yang baik untuk adikku tersayang, Reina.
3.         Pulang ke tanah air, mengabdi pada bangsa dan negaraku, Indonesia.
Cukup itu Ya Allah. Kau Maha Tahu betapa aku memimpikannya....
Satu hal lagi. Izinkan aku melihat adikku, Reina, mengenakan jilbab. Menjadi hamba-Mu yang shalihah. Aamiin.

“Astaghfirullahal Adziim...” secarik kertas itu telah sukses menjatuhkan butiran-butiran air dari kedua mataku.

Kini kau pergi begitu saja,
Menindas mimpi yang 12 tahun ini telah membelenggu….
Tapi Mas, aku percaya,
Bahwa Allah selalu punya cara…

Lihatlah, kini mimpimu terwujud.
Aku mengenakan jilbab, Mas….

 ________________________________________
 Terimakasih untuk Bu Eka, ibu guru Bahasa Indonesia yang telah mengajari saya banyak hal dan memberi cambukan keren saat pertama kali dimintai pendapat tentang tulisan saya. Terdiri dari  dua halaman, berjudul 'Pemuda itu Bernama Ram', beliau hanya membacanya dalam hitungan kurang dari dua menit, dan berkata: "biasa aja." :D Tapi justru itu yang membuat saya betah main ke kamar beliau, berbincang, nonton bareng, sambil menimba ilmu, tentunya. Ada motivasi dalam diri, bahwa saya (harus) membuat beliau berkata "bagus", secepatnya. :)

GARUDA

Ditulis ketika saya duduk di kelas sebelas Madrasah Aliyah, cerpen ini merupakan salah satu perwujudan saya yang saat itu tengah menggemari sejarah. Terimakasih kepada guru sejarah (Pak Ipik dan Pak Erwin) yang inspiratif sekali. Juga kepada Bu Novi yang membuat saya termotivasi untuk menulis. Lagi, untuk OSIS Jurnalistik yang memuat cerpen saya jadi bersambung, di mading Jurnal. :D *kangen mendadak sama Insan Cendekia* Kira-kira, tiga tahun yang lalu. :)
_____________________________________________________________________ 

“Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku. Ku yakin hari ini pasti menang”
Sekawanan bocah berlarian sambil bernyanyi. Tangan-tangan mungil mereka menggenggam ranting. Membiarkan ranting-ranting itu menghantam barisan tiang besi dipinggir jalan hingga menghasilkan melodi tak beraturan.
#

GARUDA

Kau tahu legenda tentang Garuda?
“Datang dan temui ia pada hari yang mengandung bilangan tanpa golongan atau genap, ketika jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia akan memberikan emasnya kepadamu.”

#
Demi emas yang dijanjikan, malam itu, aku pergi kepada Sang Garuda. Legenda itu memang tak tertulis dalam buku-buku sejarah. Apalagi dalam arsip-arsip nasional yang tersimpan rapi di museum-museum tua. Tapi legenda itu ada dalam surat peninggalan almarhum kakekku. Dan itu lebih dari cukup bagiku untuk memercayainya.
Setahuku, ada banyak Garuda di dunia. Istana Negara, kedutaan Indonesia di berbagai pelosok dunia, museum, perpustakaan, hingga ruang kelasku di sekolah ‘menyimpan’ Garuda. Saat itu aku yang masih bocah sempat berpikir bahwa Garuda adalah burung elang. Tapi ternyata bukan. Garuda adalah Garuda.
Aku tengah berdiri di hadapan Tugu Pahlawan Revolusi Monumen Pancasila Sakti. Tugu itu terletak 45 meter sebelah utara dari sumur maut tempat ketujuh pahlawan revolusi dikubur dengan timbunan batang-batang pisang, sampah, dan tanah setelah disiksa sampai mati. Tentang bagaimana aku bisa masuk ke wilayah monumen pada malam hari, tak perlu kau permasalahkan. Itu tak penting dan bukan urusanmu.
Aku dibuat kagum oleh ketujuh patung pahlawan revolusi yang terlihat begitu gagah. Tapi yang lebih membuatku kagum adalah patung Sang Garuda Pancasila dibelakang mereka. Berdiri tegak dengan latar dinding setinggi tujuh belas meter. 
Sepuluh menit sebelum tepat pukul sepuluh malam. Penantianku untuk membuktikan kebenaran legenda ini membuat jantungku berdebar. Tujuan awalku saat itu memang sebagai salah satu usaha untuk mendapatkan emas demi membeli bola sepak seperti yang digunakan oleh idolaku ketika mencetak gol di arena Gelora Bung Karno, sekitar dua pekan lalu sebelum malam itu. –Lagi-lagi kau tak perlu tahu tentang hal ini. Tentang siapa tokoh idolaku. Itu masalah pribadi.— Tapi kemegahan patung Garuda malam itu membelokkan orientasi awal. Tanpa sadar aku memerhatikan seluk-beluknya. tujuh belas helai bulu pada masing-masing sayap, delapan helai bulu di bagian ekor, sembilan belas bulu pada pangkal ekor serta 45 bulu di bagian lehernya. Perisai Pancasila di dada sang Garuda, sepasang kaki yang menggenggam “Bhinneka Tunggal Ika”. Penggambaran hebat 17 Agustus 1945.
22.00
22.12
22.13
22.32
22.58
23.19
23.20
5400 detik sudah aku menunggu. Tapi hasilnya nihil. Jangankan emas, bulan yang lazimnya tampak pun tak terlihat malam itu. Yang ada hanya derik jangkrik dan desahan napasku.  Kusadari hari semakin larut. Aku membalikkan badan, menuruni tangga. Sedikit kecewa atas legenda yang ternyata hanya sekadar legenda. Jujur, saat itu aku merasa sangat bodoh (atau lebih tepatnya, merasa sangat dibodohi).
Langkahku telah mencapai jarak satu meter sebelum akhirnya sesuatu menghalangi pandangan. Tubuhku diselimuti oleh benda asing yang lembut. Gelap. Dalam durasi empat detik, aku tak dapat melihat apapun. Tapi pada detik kelima, mataku dapat menangkap cahaya keemasan yang berkilau. Seperti tirai pertunjukan opera, dua makhluk emas itu membuka pandanganku dari sisi kanan dan kiri secara bersamaan. Spontan tubuhku kembali berbalik arah, kembali menghadap Tugu Monumen Pancasila Sakti.
Betapa aku tak terperanjat ketika kulihat patung Garuda Pancasila tak lagi di tempatnya. Tak lagi berada di belakang jejeran para pahlawan revolusi. Dia berdiri tegak persis di depan Relief Monumen Pancasila Sakti. Tepat pada arah sumbu dimana Jenderal Ahmad Yani mengacungkan telunjuknya.
##

“Dia berdiri tegak persis di depan relief Monumen Pancasila Sakti. Tepat pada arah sumbu dimana Jenderal Ahmad Yani mengacungkan telunjuknya..”

Aku tidak akan berteriak kencang hingga terjungkal ke belakang dan terjatuh jika ia masih dalam bentuk yang semula meski posisinya berubah. Tapi makhluk itu benar-benar nyata berdiri di depanku. Garuda pancasila dengan kedua sayap emas terbentang lebar. Paruhnya terlihat tajam dan mengilap. Matanya menyelidik ganas ke arahku. Kakinya tetap mencengkeram “Bhinneka Tunggal Ika”.  Di dadanya terdapat sebuah perisai kokoh dengan lima gambar perwujudan pancasila. Emas. Benar-benar burung emas. Burung emas dengan tinggi berkisar antara 6,5 sampai 7 meter.  Saat itu aku merasakan tenggorokanku kering, tubuhku kaku. Seolah ada suatu kekuatan magic dari Sang Garuda. Ia mengibaskan sayapnya. Menghempas rambut hitamku yang kukira sudah kaku sejak lima belas detik yang lalu.
Ya, malam itu, 1 Oktober 2012. Legenda sang Garuda terbukti. Ini adalah kali pertama aku menceritakan rahasia besarku. Bertemu sang Garuda dan memperoleh emas darinya. Aku tak tahu apakah aku satu-satunya orang yang mendapat kesempatan luar biasa untuk mendapatkan semua emas itu, ataukah ada beribu-ribu orang yang mendapatkan kesempatan sama. Atau mungkin kau pun pernah mengalaminya. Siapa tahu?
Tapi satu hal. Aku ingin berbagi emas yang telah ia berikan padaku. Tak peduli apakah kau telah memperolehnya atau belum. Malam itu, 1 Oktober 2012. Garuda Pancasila, –percayalah, dia bukan siluman atau semacamnya— mendekapku erat sedetik setelah ia mengibaskan sayapnya. Entah dengan kekuatan apa, aku mampu berkomunikasi dengannya. Seluruh kronologi peristiwa malam itu aku ingat dengan baik, kecuali satu. Dengan cara apa aku bercakap-cakap dengan Sang Garuda. Dia membiarkan aku naik ke atas punggungnya. Membuatku terpesona dengan bulu emasnya yang indah dan cakarnya yang tajam. Membawaku terbang ke angkasa.
Kalau aku diminta untuk memilih satu malam menjadi yang paling bersejarah, maka pilihanku jatuh pada malam itu. Aku melintasi Indonesia melalui udara, menunggangi seekor garuda pancasila emas. Banyak tempat yang ‘kami’ kunjungi, dan itu semua terlalu banyak jika harus kuungkapkan semuanya padamu, Teman. Jadi pada kesempatan kali ini aku akan berbagi tentang satu di antara sekian kunjungan yang aku alami. Kunjungan ke suatu tempat yang biasa disebut kuburan. Ya, sebuah pemakaman yang kini kuketahui berada di pulau Kalimantan. Garuda Pancasila mengisahkan padaku tentang dirinya. Tentang asal-usulnya, tentang kisahnya hingga ia berada dimana-mana saat ini. Aku merinding melintasi deretan kuburan itu. Berhati-hati melangkahkan kaki sementara Garuda terbang di atasku dalam jarak beberapa meter. Ia menurunkan tubuhku dari tunggangannya sejak berada di pintu gerbang masuk wilayah pemakaman. Kami berhenti pada satu sisi. Makam seseorang diantara banyaknya tempat persemayaman terakhir. Tiap kali Garuda menggerakan sayapnya yang besar, ia menggerakkan partikel-partikel di udara menjadi lebih kuat. Membuatku agak tercengang dengan efek sampingnya. Mungkin ia akan segera menjadi tokoh idola baruku dan menggeser si pemain bola yang sangat aku kagumi. Begitu pikirku. Dan itu menjadi kenyataan. Kini aku benar-benar mengidolakannya.
Jangan kau bayangkan ia berkisah padaku sambil tersenyum. Jangankan tersenyum, mengendurkan sedikit ketajaman matanya pun tidak. Ia berkisah –dengan bahasa yang tak dapat aku ingat— sambil terus menatap tajam ke arahku. Selain bahasanya, aku pun tak dapat ingat mengenai raut wajah serta ekspresinya kecuali tatapan mata dan bidikan tajamnya. Sesuatu yang sangat membuat ia berbeda dengan burung normal pada umumnya adalah gesture tubuh yang ia tunjukkan. Kuakui gerakannya aneh. Tapi bahkan hingga saat ini aku tak tahu dimana letak keanehan yang menciptakan perbedaan itu. Yang kutahu, ia jelas-jelas berbeda dengan makhluk manapun jika dilihat dari segi fisik. Hanya itu.
Makam itu bertuliskan sebuah nama yang ketika aku membacanya pertama kali terdengar asing di telingaku. 
Sultan Hamid II
Syarif Abdul Hamid Alkadrie
Lahir: Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Juli1913
Wafat: Jakarta, 30 Maret1978

Terdengar asing, kecuali pada bagian ‘Syarif’. –Kubiarkan kau tahu, Syarif adalah nama depan ayahku—

##

Ya, Syarif adalah nama depan ayahku..

Sultan Hamid II
Syarif Abdul Hamid Alkadrie
Lahir: Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Juli1913
Wafat: Jakarta, 30 Maret1978

Sultan Hamid II yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie. Sang perancang lambang negara Indonesia yang tak lain adalah Garuda Pancasila. Untuk perama kalinya aku menyadari bahwa selama ini tak pernah kupikirkan tentang siapa yang merancang desain Garuda Pancasila. Di samping itu, aku bahkan mengetahui siapa yang merancang desain kaos seragam pemain sepak bola. Padahal di pojok atas kaos itu terdapat Garuda Pancasila (yang sebenarnya menjadi daya tarik utama dari seragam kebanggaan pemain bola Indonesia tersebut). Diam-diam aku berpikir betapa dangkal dan tidak telitinya pemikiranku. 
Garuda mengatakan bahwa tempat yang kami kunjungi saat itu adalah sebuah pemakaman kesultanan. Itulah alasannya mengapa ia menurunkanku dari punggungnya sebelum masuk ke dalam kawasan pemakaman. Sebuah etika demi menjaga estetika perilaku. Tetapi bagiku, makam tetaplah makam. Peduli apa pemakaman kesultanan atau pemakaman kerajaan. Tempat itu tetap saja kusebut kuburan.
Entah bagaimana awalnya, burung emas itu mulai berkisah. Menceritakan padaku tentang tokoh yang makamnya tepat berada di hadapan kami. Sultan Hamid II adalah seorang keturunan Arab-Indonesia yang pernah ditahan pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, dan diangkat menjadi kolonel ketika Belanda berkuasa menggantikan Jepang. Bahkan beliau meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda. Kisah Sang Garuda berawal ketika Sultan Hamid II diperintahkan oleh Presiden Sukarno untuk merancang dan merumuskan gambar lambang Negara. Lantas dibentuklah sebuah kelompok yang diberi nama Panitia Lencana Negara dengan Syarif Abdul Hamid Alkadrie sebagai ketuanya. Ya, Syarif Alkadrie itu; dialah Sultan Hamid II. Ada binar kebanggaan pada Garuda ketika ia mengisahkan bahwa tak sedikit yang ikut mengusulkan rancangan lambang negara Indonesia. Usulan-usulan tersebut dipangkas hingga tersisa dua rancangan, yakni karya Sultan Hamid II dan karya Muhammad Yamin. Pada bagian ini, kusadari Garuda  menarik napas panjang. Membuatku berpikir tentang eksistensi makhluk yang kala itu berdiri gagah disampingku.
Lalu ia melanjutkan. Pada proses selanjutnya, pemerintah dan DPR kala itu menerima usulan rancangan Sultan Hamid II. Sementara karya Muhammad Yamin ditolak dengan alasan sinar matahari yang terdapat pada rancangannya menampakkan pengaruh Jepang; bangsa yang terkenang pernah menjajah tanah air. Ternyata proses menjadikan Garuda seperti tampaknya saat ini tak secepat yang aku perkirakan sebelumnya.  Setelah rancangan Sultan Hamid II terpilih, beliau terus melakukan dialog intensif dengan Presiden Soekarno, dan Perdana Menteri Mohammad Hatta demi keperluan penyempurnaan rencana tersebut. 
Cukup banyak rancangan yang diubah dalam proses penyempurnaan itu. Mulai dari pita yang dicengkeram Garuda (yang semula berwarna merah-putih) diganti menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”; penggantian bentuk Garuda yang semula berwujud tangan dan bahu manusia diganti dalam bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Hal ini berdasarkan aspirasi yang menganggap rancangan Garuda sebelumnya bersifat mitologis. Bukan hanya itu, bahkan peubahan Garuda juga dilakukan setelah ia diresmikan pada sidang kabinet RIS tanggal 11 Februari 1950. Pada peresmiannya yang pertama, Garuda masih tanpa jambul dan posisi cakarnya masih di belakang pita. Ketika mendengar hal itu, aku sedikit tersenyum membayangkan jika Garuda yang ada di sampingku saat itu berdiri tanpa jambul. Meskipun matanya tak berubah dan tatapannya tetap tajam, ia tak akan pernah sekeren sekarang jika tidak memiliki jambul. Diam-diam aku kagum betapa persoalan lambang Indonesia diatur sedemikian telitinya. Bahkan sampai persoalan jambul.
##

Meskipun matanya tak berubah dan tatapannya tetap tajam, ia tak akan pernah sekeren sekarang jika tidak memiliki jambul.

Garuda mengibaskan sayapnya kuat-kuat. Membuat kaus oblongku berkibar tertiup angin. Mungkin sebagai perwujudan rasa tak sukanya atas imajinasiku tentang dirinya yang gundul. Meski aku tak mengungkapkannya kala itu, entah atas dasar apa aku meyakini dia tahu tentang imajinasi konyolku. Dan kurasa ia tak akan pernah tersenyum sekonyol apapun imajinasi yang berputar di kepalaku. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan dirinya.
Garuda berhenti pada bagian itu (baca:jambul). Kemudian ia memerintahkan aku untuk pergi keluar pemakaman kesultanan. Aku berjalan perlahan menelusuri tempat itu. Mencuri-curi pandang ke lingkungan sekitar. Tapi si Garuda –saat itu aku lebih suka menyebutnya burung emas— membuatku tak dapat berlama-lama memperhatikan keadaan sekitar. Ia terbang cepat menuju gerbang pemakaman. Membuatku tak berani memperlambat langkah. Bagaimanapun, tempat itu adalah pemakaman. Tempat yang bagi bocah seumuran aku dahulu menjadi bahan perbincangan segala keanehan yang ada di dunia. Padahal faktanya tak sepeti itu. Tapi itu kan dulu… saat aku masih percaya mitos.
Saat yang paling menakjubkan dari perjalanan malam itu adalah ketika aku naik ke atas punggung Sang Garuda. Aku dapat dengan jelas melihat rantai perisai yang sangat besar dan kokoh. Jika aku deskripsikan keadaan ketika aku terbang menunggangi Garuda, untaian kata-kata ini tak akan mampu menggambarkannya. Kalau saja malam itu aku tak sendirian, bersama dua puluh orang teman-pun aku yakin, punggung si Garuda masih mampu memuat kami semua. Kulipat kakiku dan kupegang si Garuda erat-erat. Kecepatan terbangnya luar biasa. Lengah sedikit saja, mungkin aku akan terhempas dari udara dan terdampar entah ke mana. Di bawah, dapat kulihat Indonesia malam yang menakjubkan. Aku dapat melihat temaram lampu-lampu di perkotaan dengan jelas ketika si Garuda menurunkan jarak terbangnya ke daratan. Lebih tinggi sedikit, lampu-lampu kota tak terlihat. Bahkan cenderung gelap dari atas udara.
Kami mendarat di depan sebuah bangunan besar yang kemudian kuketahui merupakan sebuah hotel tua. Hotel Des Indes tempat di mana Ia (baca: Garuda) diperkenalkan oleh presiden Soekarno untuk pertama kalinya kepada khalayak umum. Tempat megah yang bahkan menjadi hotel nomor satu se-Asia pada masanya. Peristiwa dipublikasikannya Garuda itu terjadi pada tanggal 15 Februari 1950. 
Sayang sekali Garuda tak mengajakku memasuki hotel Des Indes. Kuduga karena tubuhnya yang terlampau besar dan kuat bisa menghancurkan hotel tua itu. Tapi rupanya dugaanku salah. Tiba-tiba Garuda Pancasila kembali mengibaskan sayapnya dan terbang tinggi sampai aku tak dapat melihat sosoknya lagi di udara. Aku terdiam sambil memandang langit. Mencari-cari sosok emas yang baru saja aku kenal. Baru beberapa menit kemudian dapat kulihat dari kejauhan setitik emas yang semakin lama semakin jelas rupanya. Sang Garuda turun dari langit dan untuk pertama kalinya aku dapat mendengar pekikan suara dari dirinya. Suara pekikan yang tak juga dapat aku gambarkan dengan jelas. Suaranya menggelegar. Mungkin gabungan antara suara burung, singa, beruang, serigala, bahkan mungkin manusia. Mendengar suaranya yang luar biasa, membuatku tersadar mengenai suatu keanehan. Tak ada siapapun di tempat itu kecuali aku dan si Garuda Pancasila. Bukan hanya saat itu. Tapi sejak awal perjalanan kami, aku tak melihat orang lain selain kami bedua –itu jika kau sudi menyebutnya sebagai ‘orang’— berkeliaran di semua tempat yang telah kami kunjungi.
Dia telah mendarat dan mengambil posisi tepat di depanku. Aku menegadahkan kepala demi melihat wajah garudanya. Memandang dari kejauhan matanya yang berkilau. Jauh. Ingat bahwa tingginya mungkin sektar 6.5 sampai 7 meter. Dan tinggi tubuhku saat itu bahkan tak mencapai 1,6 meter. Mengingat perbedaan fisik saja membuatku berimajinasi bagaimana seandainya ia adalah tokoh jahat seperti monster dalam cerita-cerita fiksi. Mungkin namaku akan segera muncul di koran keesokan harinya. Berita mengenai seorang anak kelas 5 Sekolah Dasar yang mati terinjak burung Garuda. Oke, rasanya tidak keren sekali.
Tapi ia bukanlah tokoh jahat. Garuda berdiri di depanku dan perlahan membungkukkan tubuhnya. Persis seperti ketika akan menyuruhku untuk menunganginya. Tapi tidak. Ia tak lagi menyuruhku untuk naik ke punggungnya. Matanya yang bulat dan besar tepat didepan wajahku. Saat itulah bebagai macam pertanyaan yang semula tak ada, muncul satu persatu dalam benakku. Tentang legenda, tentang dirinya, tentang emas, tentang segala hal yang tejadi malam itu, tentang semua keanehan yang baru aku sadari bahwa semua itu aneh pada detik kesekian dari perjalanan kami.  Baru saja aku membuka mulut untuk bicara den menghujam Garuda dengan sejuta pertanyaan, ia kembali memekik dengan keras. Suara yang telah kukatakan padamu tak dapat aku deskripsikan dengan jelas itu kembali terdengar. Ia mengibaskan sayapnya dan terbang jauh hingga tak terlihat lagi. Kibasan sayapnya yang luar biasa membawa efek luar biasa pula bagi diriku. Tubuhku mundur ke belakang secara otomatis, menghantam sesuatu dan seingatku, aku terjatuh di bawah sebuah tong sampah yang bau. Dan setelah itu aku tak ingat lagi. Gelap.
Ingatanku melompat pada kejadian setelah peristiwa di Hotel Des Indes, di tong sampah bau itu, beralih pada ruangan kamarku yang bercat biru. Hal pertama dari peristiwa di tempat ini adalah pada bagian aku membuka mata dan melihat langit-langit kamar yang tak asing bagiku. Otakku berpikir beberapa detik dan tersentak menyadari bahwa itu adalah kamar tempat aku biasa mengerjakan PR dan bermain Soccerball Game kesayanganku. Aku mengulang memori terakhir yang kuingat, kemudian aku berteriak memanggil siapapun yang ada di rumah. Pagi itu, ibuku adalah orang yang pertama kali aku temui. Dalam pikiran yang agak kacau, aku membanjiri ibuku dengan puluhan pertanyaan. Kenapa aku ada di rumah, dimana si Garuda Pancasila Emas, bagaimana aku bisa tidur di dalam kamarku. Padahal yang terakhir kuingat aku terjembab di bawah tong sampah di depan Hotel Des Indes.
Ibuku lantas tertawa menanggapi semua pertanyaan sekaligus pernyataan itu. Beliau menceritakan bahwa aku tertidur di depan tugu Monumen Pancasila Sakti. Hal terburuk yang memang sempat terlintas dalam benakku, ketika ibuku mengatakan bahwa semua hanya mimpi.
Mimpi.
##
Padahal yang terakhir ku ingat, aku terjembab dibawah tong sampah di depan Hotel Des Indes.

Enam belas jam kurang dua puluh satu menit setelah ibuku mengatakan bahwa semua yang kualami hanyalah mimpi. 
Seharian itu aku lelah berpikir. Lelah meyakinkan orang-orang bahwa apa yang kualami, bahwa pertemuanku dengan burung Garuda Pancasila Emas itu memang benar-benar nyata. Semuanya tertawa, mengatakan bahwa apa yang kubicarakan hanyalah bualan semata. Apalagi pada bagian Hotel Des Indes. Betapa aku tidak dianggap sebagai pembohong besar. Nyatanya, hotel tua itu memang sudah tak ada sejak tahun 1971. Bagaimana mungkin aku menghampiri hotel yang sudah rata dengan tanah sejak 41 tahun lalu?
Januari 2013. Aku pasrah dan menerima kenyataan bahwa kejadian pada 1 Oktober 2012 malam adalah sebuah mimpi. Butuh tiga bulan lamanya bagiku, untuk mengikhlaskan bahwa apa yang aku alami ternyata hanya sebuah mimpi. Meski harus kuakui bahwa ingatan akan malam itu tak pernah lepas. Masih ada kejanggalan yang aku rasakan.
Satu hari di bulan Januari, Selasa, ibu memaksaku merapikan gudang berkedok kamar bercat biru. Gudang berkedok kamar yang biasa jadi tempat bermain Soccerball Game kesayanganku. Dengan malas aku mengambil satu persatu benda yang berserakan di lantai. Mencoba menyusunnya, dan gagal. Benda-benda itu tetap terlihat berantakan di mata ibuku. Ibu justru menyodorkan kayu berambut di bagian bawah yang biasa beliau sebut-sebut sebagai sapu ijuk. Alat ini memang membantuku. Aku menggerakan tanganku, membiarkan si sapu menyentuh lantai-lantai gudang (baca: kamar). Dan kini aku begitu berterima kasih pada sapu ijuk. Karena berkat dialah aku mengetahui betapa asyiknya kegiatan ‘menyapu’ (Oke, sebenarnya bukan karena itu). Aku benar-benar berterima kasih. Karena berkat si sapu ijuk, aku menemukan sehelai bulu emas yang muncul ketika kugerakkan sapu ijuk di bagian bawah kasur. Dan percaya atau tidak, bulu emas itu mengabarkan padaku –dengan cara yang tak mampu aku definisikan- tentang Garuda. Tentang kebenaran malam 1 Oktober itu. 
Bulu emas yang kemudian mengantarkanku pada sang Garuda, pada petualangan selanjutnya yang tak kalah menakjubkan dari petualangan hari lahirnya Pancasila Sakti 1 Oktober 2012; Penjelajahan Nusantara 1 Juni 2013. Sebuah hari yang diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila. Bulu emas yang sama, yang kemudian mengantarkanku pada sang Garuda. Pada petualangan selanjutnya; 28 Oktober 2013. 85 tahun setelah para pemuda menggemakan sumpahnya, Hari Sumpah Pemuda. Bulu emas yang kemudian menjadi bagian sejarah hidupku. Menjadikan aku memiliki semangat nasionalisme –mungkin- yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Yah, Garuda itu benar-benar membagi emasnya kepadaku. Sebenarnya ini rahasia, sih. Eh hei, atau jangan-jangan Kau juga memilikinya? Tentang legenda yang tak tertulis di buku sejarah itu.
 10 November, 2025 M
Tertanda,

Aku.

Kau tahu legenda tentang Garuda?
“Datang dan temui ia pada hari yang mengandung bilangan tanpa golongan atau genap, ketika jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia akan memberikan emasnya kepadamu.”

Rancu

Kau selalu saja berubah-ubah. Kau bilang, jadilah seperti batu karang yang kokoh, teguh pada pendiriannya. Tapi pada kesempatan yang lain, Kau memakiku. Kau katakan bahwa aku terlalu kaku. Kau bilang padaku untuk jadi seperti aliran air, yang mampu beradaptasi pada setiap perubahan permukaan. Lantas siapa yang jadi tidak jelas disini? aku, atau Kau? 

Kau selalu saja ingin tahu urusanku. Menanyakan dimana gerangan aku, sedang apa aku, apa rencanaku, apa mauku. Tapi tak jarang juga Kau kembali memakiku. Menyuruhku untuk mengurusi urusanku sendiri. Kau bilang, aku harus bersikap dewasa- tidak bergantung pada orang lain. Lantas siapa yang tidak jelas disini? aku, atau Kau?

Kita ini hidup bersama, seirama, senada.
Harusnya Kau mengerti, harusnya aku mengerti.


Heh, berbicara dengan diri sendiri memang takkan pernah ada habisnya.
Kau sungguh merepotkan. Dan sialnya, kita berdua sama saja. =P

Monday, March 17, 2014

Hanya Salah Dua


Kawan, masih hangat dalam ingatanku, tentang hari-hari gerimis kita. Ketika fikiran kita begitu sederhana; percaya bahwa hujan mampu mereset ulang isi kepala yang belakangan kusut tak terkira. Masih jelas dalam memoriku, perbincangan kita yang memecah dunia. Pagi-siang-sore-malam itu, ketika hujan turun rintik-rintik, ketika gerimis membasahi, ketika bumi kita dibasuh derasnya air langit, saat waktu tahu-tahu seakan terhenti. Menyisakan potongan-potongan memori untuk masa depan, menghapus kerumitan isi kepala kita seketika, --sejenak setelah kita memanjatkan puji pada Sang Kuasa, setelah kita menyisipkan doa dalam hati masing-masing. Kita tersenyum memandangi tetes kepingan awan. Sampai saat ini pun, aku masih percaya akan keajaiban itu.

Dan kita hanya salah dua dari miliaran manusia yang merasakan hal sama,

pada momen-momen tersebut. :)